Senin, 15 Juli 2013

SEKILAS TENTANG DESA TAMBAKSELO PENDAHULUAN


ASAL USUL HARI JADI KABUPATEN GROBOGAN DAN SEKILAS TENTANG DESA TAMBAKSELO
GROBOGAN ADALAH SALAH SATU KABUPATEN DI JAWA TENGAH INDONESIA, DENGAN WILAYAHNYA TERLETAK DIANTARA PEGUNUNGAN KENDENG UTARA DAN PEGUNUNGAN KENDENG SELATAN
YANG KEDUANYA MEMBUJUR DARI BARAT KE TIMUR. TERLETAK DIANTARA (110° 75' - 111° 25' BT DAN 7° - 7° 30' LS)110 DERAJAT 75 MENIT SAMPAI 111 DERAJAT 25 MENIT BUJUR TIMUR. 7,7 DERAJAT 30 MENIT LINTANG SELATAN
BATAS WILAYAHNYA MELIPUTI :
SEBELAH UTARA --> KABUPATEN DATI II DEMAK, KUDUS, PATI DAN BLORA.
SEBELAH TIMUR --> KABUPATEN DATI II BLORA.
SEBELAH SELATAN --> KABUPATEN DATI II SEMARANG, BOYOLALI, SRAGEN DAN KABUPATEN NGAWI (JAWA TIMUR).
SEBELAH BARAT --> KABUPATEN DATI II SEMARANG DAN DEMAK
SECARA GEOGRAFIS LUAS WILAYAH KABUPATEN DATI II GROBOGAN ADALAH 1.975,86 Km². 
DAN MERUPAKAN WILAYAH TERLUAS NOMOR DUA SETELAH KABUPATEN CILACAP DI JAWA TENGAH
KABUPATEN GROBOGAN YANG IBU KOTANYA DI PURWODADI, MENURUT PERDA KAB. GROBOGAN NO 11 TAHUN 1991 TENTANG PENETAPAN HARI JADI KABUPATEN GROBOGAN HARI JADINYA SENIN KLIWON , 21 JUMADILAKIR 1650 SAKA ATAU 4 MARET1726
MENURUT SUMBER LAINNYA :
Grobogan
Hari Jadi : 4 Maret 1726
Tgl.Qomaria : 1 Rajab 1138 H
Hari : senin 4
Pasaran : Pahing 9
Umur Pada Tgl 08 November 2001 : 275 tahun, 8 bulan, 5 hari
Bintang : Pisces
Wuku : Wukir
Shio : Kuda
Elemen : Api (+)
CHANDRA SENGKALA HARI JADI GROBOGAN ADALAH "KOMBULING CIPTO HANGROSO JATI".
SURYA SANGKALA HARI JADI GROBOGAN ADALAH "KRIDHANING HANGGA HAMBANGUN PRAJA"
Ceritanya pada saat itu susuhunan amangkurat iv mengangkat seorang abdi yang telah berjasa kepada sunan,
Bernama ng. Wongsodipo menjadi bupati monconagari (taklukan raja) grobogan dengan nama rt martopuro pada 21 jumadilakir 1650 saka atau 4 maret1726. Dalam pengangkatan ini ditetapkan pula wilayah yang menjadi kekuasaannya yaitu : . Sela, teras karas, wirosari, santenan, grobogan, dan beberapa daerah di sukowati bagian utara bengawan sala (serat babad kartasura / babad pacina : 172 - 174).
Oleh karena kota kartasura pada waktu itu sedang dalam keadaan kacau, maka rt martopuro masih tetap di kartasura. Sedang pengawasan terhadap daerah grobogan diserahkan kepada kemenakan sekaligus menantunya bernama rt suryonagoro (suwandi). Tugasnya menciptakan struktur pemerintahan kabupaten pangreh praja. Seperti adanya bupati patih, kaliwon, pamewu, mantri, dan seterusnya sampai jabatan bekel di desa – desa dengan ibu kotanya di grobogan.tetapi pada tahun 1864 ibukota kabupaten grobogan pindah ke purwodadidipimpin oleh rt. Adipati martonagoro 1864 - 1875 dan sampai sekarang ibu kota kabupaten grobogan masih di kota purwodadi.
Sebelumnya kita lihat sekilas tentang sejarah kesultanan yang mengiringi terbentuknya suatu wilayah ataupun daerah Pula Jawa salah satunya adalah Kesultanan Pajang sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah sebagai kelanjutan Kesultanan Demak. Kompleks keraton, yang sekarang tinggal batas-batas fondasinya saja, berada di perbatasan Kelurahan Pajang, Kota Surakarta dan Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

Asal-usul

Sesungguhnya nama negeri Pajang sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Menurut Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365, ada seorang adik perempuan Hayam Wuruk (raja Majapahit saat itu) menjabat sebagai penguasa Pajang, bergelar Bhatara i Pajang, atau disingkat Bhre Pajang. Nama aslinya adalah Dyah Nertaja, yang merupakan ibu dari Wikramawardhana, raja Majapahit selanjutnya.
Dalam naskah-naskah babad, negeri Pengging disebut sebagai cikal bakal Pajang. Cerita Rakyat yang sudah melegenda menyebut Pengging sebagai kerajaan kuno yang pernah dipimpin Prabu Anglingdriya, musuh bebuyutan Prabu Baka raja Prambanan. Kisah ini dilanjutkan dengan dongeng berdirinya Candi Prambanan.
Ketika Majapahit dipimpin oleh Brawijaya (raja terakhir versi naskah babad), nama Pengging muncul kembali. Dikisahkan putri Brawijaya yang bernama Retno Ayu Pembayun diculik Menak Daliputih raja Blambangan putra Menak Jingga. Muncul seorang pahlawan bernama Jaka Sengara yang berhasil merebut sang putri dan membunuh penculiknya.
Atas jasanya itu, Jaka Sengara diangkat Brawijaya sebagai bupati Pengging dan dinikahkan dengan Retno Ayu Pembayun. Jaka Sengara kemudian bergelar Andayaningrat.

Kesultanan Pajang

Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kesultanan Demak.
Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap Demak. Putranya yang bergelar Jaka Tingkir setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.
Prestasi Jaka Tingkir yang cemerlang dalam ketentaraan membuat ia diangkat sebagai menantu Sultan Trenggana, dan menjadi bupati Pajang bergelar Hadiwijaya. Wilayah Pajang saat itu meliputi daerah Pengging (sekarang kira-kira mencakup Boyolali dan Klaten), Tingkir (daerah Salatiga), Butuh, dan sekitarnya.
Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, Sunan Prawoto naik takhta, namun kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang tahun 1549. Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal.
Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (bupati Jepara putri Sultan Trenggana), Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Ia pun menjadi pewaris takhta Kesultanan Demak, yang ibu kotanya dipindah ke Pajang.

Perkembangan

Pada awal berdirinya tahun 1549, wilayah Kesultanan Pajang hanya meliputi sebagian Jawa Tengah saja, karena negeri-negeri Jawa Timur banyak yang melepaskan diri sejak kematian Sultan Trenggana.
Pada tahun 1568 Sultan Hadiwijaya dan para adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen. Dalam kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang di atas negeri-negeri Jawa Timur. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama dari Surabaya (pemimpin persekutuan adipati Jawa Timur) dinikahkan dengan putri Sultan Hadiwijaya.
Negeri kuat lainnya, yaitu Madura juga berhasil ditundukkan Pajang. Pemimpinnya yang bernama Raden Pratanu alias Panembahan Lemah Dhuwur juga diambil sebagai menantu Sultan Hadiwijaya.

Wali Songo

Pada zaman Kesultanan Demak, majelis ulama Wali Songo memiliki peran penting, bahkan ikut mendirikan kerajaan tersebut. Majelis ini bersidang secara rutin selama periode tertentu dan ikut menentukan kebijakan politik Demak.
Sepeninggal Sultan Trenggana, peran Wali Songo ikut memudar. Sunan Kudus bahkan terlibat pembunuhan terhadap Sunan Prawoto, raja baru pengganti Sultan Trenggana.
Meskipun tidak lagi bersidang secara aktif, sedikit banyak para wali masih berperan dalam pengambilan kebijakan politik Pajang. Misalnya, Sunan Prapen bertindak sebagai pelantik Hadiwijaya sebagai sultan. Ia juga menjadi mediator pertemuan Sultan Hadiwijaya dengan para adipati Jawa Timur tahun 1568. Sementara itu, Sunan Kalijaga juga pernah membantu Ki Ageng Pemanahan meminta haknya pada Sultan Hadiwijaya atas tanah Mataram sebagai hadiah sayembara menumpas Arya Penangsang.
Wali lain yang masih berperan menurut naskah babad adalah Sunan Kudus. Sepeninggal Sultan Hadiwijaya tahun 1582, ia berhasil menyingkirkan Pangeran Benawa dari jabatan putra mahkota, dan menggantinya dengan Arya Pangiri.
Mungkin yang dimaksud dengan Sunan Kudus dalam naskah babad adalah Panembahan Kudus, karena Sunan Kudus sendiri sudah meninggal tahun 1550.
Tanah Mataram dan Pati adalah dua hadiah Sultan Hadiwijaya untuk siapa saja yang mampu menumpas Arya Penangsang tahun 1549. Menurut laporan resmi peperangan, Arya Penangsang tewas dikeroyok Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi.
Ki Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati sejak tahun 1549. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan hadiahnya tahun 1556 berkat bantuan Sunan Kalijaga. Hal ini disebabkan karena Sultan Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.
Ramalan tersebut menjadi kenyataan ketika Mataram dipimpin Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan sejak tahun 1575. Tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang. Di bawah pimpinannya, daerah Mataram semakin hari semakin maju dan berkembang.
Pada tahun 1582 meletus perang Pajang dan Mataram karena Sutawijaya membela adik iparnya, yaitu Tumenggung Mayang, yang dihukum buang ke Semarang oleh Sultan Hadiwijaya. Perang itu dimenangkan pihak Mataram meskipun pasukan Pajang jumlahnya lebih besar.
Sepulang dari perang, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Terjadi persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.
Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.
Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Sultan Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.
Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga.
Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya.
Sutawijaya sendiri mendirikan Kesultanan Mataram di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.

Daftar Raja Pajang

  1. Jaka Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya
  2. Arya Pangiri bergelar Sultan Ngawantipura
  3. Pangeran Benawa bergelar Sultan Prabuwijaya

Joko Tingkir

Jaka Tingkir, kadang-kadang juga ditulis Joko Tingkir, adalah pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Pajang yang memerintah tahun 1549-1582, bergelar Sultan Adiwijaya.

Asal-usul

Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, putra Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga. Ketika ia dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir.[1] Kedua ki ageng ini adalah murid Syekh Siti Jenar. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.
Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kesultanan Demak. Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus. Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula. Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir).
Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang gemar bertapa, dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan Kalijaga. Ia juga berguru pada Ki Ageng Sela, dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng yaitu, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.
Silsilah Jaka Tingkir :
Andayaningrat (tidak diketahui nasabnya) + Ratu Pembayun (Putri Raja Brawijaya)→ Kebo kenanga (Putra Andayaningrat)+ Nyai Ageng Pengging→ Mas Karebet/Jaka Tingkir

Mengabdi ke Demak

Babad Tanah Jawi selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Di sana ia tinggal di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir pandai menarik simpati Sultan Trenggana sehingga ia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.
Beberapa waktu kemudian, Jaka Tingkir bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji kesaktiannya dan Dadungawuk tewas hanya dengan menggunakan SADAK KINANG. Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.
Jaka Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro(saudara seperguruan ayahnya). Setelah tamat, ia kembali ke Demak bersama ketiga murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.
Rombongan Jaka Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit. Muncul kawanan siluman buaya menyerang mereka namun dapat ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu mendorong rakit sampai ke tujuan.
Saat itu Sultan Trenggana sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau gila yang dinamakan sebagai Kebo Danu yang sudah diberi mantra (diberi tanah kuburan pada telinganya). Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan Sultan di mana tidak ada prajurit yang mampu melukainya.
Jaka Tingkir tampil menghadapi kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas jasanya itu, Sultan Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.
Kisah dalam naskah-naskah babad tersebut seolah hanya kiasan, bahwa setelah dipecat, Jaka Tingkir menciptakan kerusuhan di Demak, dan ia tampil sebagai pahlawan yang meredakannya. Oleh karena itu, ia pun mendapatkan simpati Sultan kembali.

Menjadi Sultan Pajang

Prestasi Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempa, putri Sultan Trenggana.
Sepeninggal Sultan Trenggana tahun 1546, putranya yang bergelar Sunan Prawoto seharusnya naik takhta, tapi kemudian ia tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun 1549. Arya Penangsang membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya juga membunuh ayah Aryo Penangsang yang bernama Pangeran Sekar Seda Lepen sewaktu ia menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan Sore. Pangeran Sekar merupakan adik Kandung Sultan Trenggono sekaligus juga merupakan murid pertama Sunan Kudus. Pembunuhan-pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan   Keris Kiai Setan Kober. Selain itu Aryo Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri suami dari Ratu Kalinyamat yang menjadi bupati Jepara.
Kemudian Aryo Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi gagal. Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang.
epeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto) mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo Penangsang karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung karena sama-sama anggota keluarga Demak dan merupakan saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus.
Maka, Adiwijaya pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo Penangsang akan mendapatkan tanah Pati dan mentaok/Mataram sebagai hadiah.
Sayembara diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga sehingga Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya Penangsang setelah menusukkan Tombak Kyai Plered ketika Aryo Penangsang menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai Kuda Jantan Gagak Rimang.
Setelah peristiwa tahun 1549 tersebut, Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya sebagai sultan pertama. Demak kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak Suan Prawoto yang menjadi Adipatinya
Sultan Adiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas Manca dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi.
Sesuai perjanjian sayembara, Ki Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki Ageng Pati. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan masih menunggu karena seolah-olah Sultan Adiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.
Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya. Ki Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai penengah kedua muridnya itu. Ternyata, alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan itu     didengarnya saat ia dilantik menjadi sultan usai kematian Arya Penangsang.
Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya agar menepati janji karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang. Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu.
Tanah Mataram adalah bekas kerajaan kuno, bernama Kerajaan Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan sekeluarga, termasuk Ki Juru Martani, membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram. Meskipun hanya sebuah desa namun bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Ageng Mataram, hanya diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti.
Saat naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah saja, karena sepeninggal Sultan Trenggana, banyak daerah bawahan Demak yang melepaskan diri.
Negeri-negeri di Jawa Timur yang tergabung dalam Persekutuan Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya. Persekutuan adipati tersebut sedang menghadapi ancaman invansi dari berbagai penjuru, yaitu Pajang, Madura, dan Blambangan.
Pada tahun 1568 Sunan Prapen penguasa Giri Kedaton menjadi mediator pertemuan antara Sultan Adiwijaya dengan para adipati Bang Wetan. Sunan Prapen berhasil meyakinkan para adipati sehingga mereka bersedia mengakui kedaulatan Kesultanan Pajang di atas negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya.
Selain itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi menantunya.
Dalam pertemuan tahun 1568 itu, Sunan Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng tersebut.
Mendengar ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan semuanya pada kehendak takdir.
S    utawijaya adalah putra Ki Ageng Pemanahan yang juga menjadi anak angkat Sultan Adiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575, Sutawijaya menjadi penguasa baru di Mataram, dan diberi hak untuk tidak menghadap selama setahun penuh.
Waktu setahun berlalu dan Sutawijaya tidak datang menghadap. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil untuk menanyakan kesetiaan Mataram. Mereka menemukan Sutawijaya bersikap kurang sopan dan terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat senior itu pandai menenangkan hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang disampaikan secara halus.
Tahun demi tahun berlalu. Adiwijaya mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali mengirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kali ini yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban), serta Patih Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya. Di tengah keramaian pesta, putra sulung Sutawijaya yang bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban yang didesak Arya Pamalad. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya sekeluarga.
Maka sesampainya di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya, sedangkan Pangeran Benawa menjelaskan kalau peristiwa pembunuhan tersebut hanya kecelakaan saja. Sultan Adiwijaya menerima kedua laporan itu dan berusaha menahan diri.
Pada tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton (putri bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman buang karena diduga ikut membantu anaknya.
Ibu Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya pun mengirim utusan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang.
Perbuatan Sutawijaya itu menjadi alasan Sultan Adiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang antara kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, namun menderita kekalahan. Adiwijaya semakin tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan laharnya ikut menerjang pasukan Pajang yang berperang dekat gunung tersebut.
Adiwijaya menarik pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan Tembayat namun tidak mampu membuka pintu gerbangnya. Hal itu dianggapnya sebagai firasat kalau ajalnya segera tiba.
Adiwijaya melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah tunggangannya, sehingga harus diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul dada Adiwijaya, membuat sakitnya bertambah parah.
Adiwijaya berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua. Pada cerita rakyat dinyatakan bahwa sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung Adiwijaya dengan anak Ki Ageng Sela.
Adiwijaya alias Jaka Tingkir akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya.

Pengganti

Sultan Adiwijaya memiliki beberapa orang anak. Putri-putrinya antara lain dinikahkan dengan Panji Wiryakrama Surabaya, Raden Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban. Adapun putri yang paling tua dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak. Arya Pangiri sebenarnya adalah anak Sunan Prawoto, yang seharusnya memang menggantikan Sultan Trenggono menjadi Raja Demak.
Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus (pengganti Sunan Kudus) untuk menjadi raja. Pangeran Benawa sang putra mahkota disingkirkan menjadi bupati Jipang. Arya Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang, bergelar Sultan Ngawantipura.
Kedua nama "Ki Ageng" ini bukanlah nama asli tetapi nama sebutan yang terkait dengan asal daerah keduanya. Pengging adalah daerah di wilayah Boyolali sekarang dan Tingkir merupakan tempat di dekat Salatiga.

Referensi

  • Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
  • Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
  • H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Kepustakaan

  • Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
  • Andjar Any. 1979. Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon. Semarang: Aneka Ilmu
  • Babad Majapahit dan Para Wali Jilid 3. 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  • Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
  • H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
  • Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  •  
SUMBER – SUMBER LAHIRNYA HARI JADI KABUPATEN GOBOGAN DAN SEKILAS TENTANG DESA TAMBAKSELO
Dari sumber lain menyebutkan bahwa pembentukan sebuah kabupaten sama halnya dengan pembahasan terhadap terbentknya suatu pemerintahan daerah.
     Yang dimaksud dengan hari jadi ialah hari kelahiran ,dies natalis yaitu suatu saat sesuatu itu tidak ada menjadi ada. Menurut pandangan hidup KEJAWEN hari kelehiran mengandung makna besar dan juga sangat berarti, juga menggembirakan dan penuh makna . hari kelahiran juga memberikan sifat-sifat tertentu kepada yang di lahirkan.
     Seseorang yan baru lahir merasa bebas dari kungkungan perut ibunya. Namun di alam bebas di harus mampu bertahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya. Panas , dingin lapar dan dahaga harus di alami dan harus berjuang agar tetap hidup. Dia berusaha menggunakan alat-alat tubuh yang dimilikinya menurut kemempuan untuk dapat bertahan hidup dan keberadaannya.
     Ibarat kelahiran seorang bayi tersebut , dapat pula kita terapkan pada kelahiran suatu Negara,daerah,kota maupun pemerintahan . walaupun masih sangat bsederhana , masih mengalami perubahan seiring kebutuhan lingkungan maupun perubahan zaman, kelahiran suatu Negara,daerah,kota maupun pemerintahan harus dipenuhi syarat – syarat  yaitu adanya wilayah, rakyat dan pengakuan dari yang lain sebagai pendukung serta pemerintahan sebagai arahan dalam usaha mempertahankan kehidupan dan keberadaannya.
     Kalau menurut KEJAWEN kelahiran suatu negara daerah,kota maupun pemerintahan didasarkan adanya pulung , cahaya nurbuat,wahyu,andaru ataupun impian –impian,seperti termuat dari cerita-cerita di sumber-sumber babat,maka secara rasional kelahiran suatu Negara daerah,kota maupun pemerintahan di dasarkan pada kenyataan sejarah peristiwa yang berupa kegiatan berupa perjuangan manusia – manusia tokoh tokoh penumbuh berdirinya suatu Desa daerah,kota maupun pemerintahan tersebut misalnya r. WIJAYA ( MAJAPAHIT) ,R. PATAH (DEMAK),MASKAREBET (PAJANG), P. DAYANINGRAT (PENGGING),SUTAWIJAYA (MATARAM)P. BANJARANSARI(PAJAJARAN) dan lain-lain.
     DI dalam menurut  perkembangan sejarah Grobogan untuk mencari dan menemukan kapan daerah tersebut mulai menunjukkan kegiatan pemerintahan secara mandiri tidak di pengaruhi oleh pemeintahan lain yang bersifat memaksa , usaha unu tudak lain adalah usaha untuk mencari dan menemukan kelahiran suatu kabupaten , maka wilayah pemerintahan dalam sejarah pemerintahan jawa adalah : secara brtingkat adalah KABUYUTAN,PATINGGEN,KADEMANGAN,KELURAHAN ATAU DESA. . DIATAS TERDAPAT KEMANTREN ATAU KECAMATAN ATAU ONDER DISTRIK,KAWEDANAN ATAU ONDER REGENTSCHAP DAN TERAHIR ADALAH KABUPATEN GUNUNG, KABUPATEN PANGREH PRAJA ATAU REGETSCHAP., SEBAGAI PUSAT PEMERINTAHAN ADALAH KERAJAAN ATAU NEGARA.
     UNTUK WILAYAH YANG SEKARANG BERNAMA KABUPATEN GROBOGAN, dalam menetapkan hari jadinya di dasarkan pada terciptanya pemerintahan local KABUPATEN GROBOGAN pada masa dahulu.
     Dalam sejarah jawa , jabatan Bupati atau Bupati prajurit ,ebutannya Adipati . tugasnya menyediakaan prajurit dan tenaga untuk kerajaan . maka bupati ini harus bertempat tinggal di kuthagara . di samping tugas tersebut maka dia harus pulang menyediakan kebutuhan istana, orang aneh,kain-kain dan sebagainya . sebagai pemimpin dari berbagai Bupati Nayaka atau wedana Bupati sepuh  ( serat afdel:11-13) bupati yang ini mempunyai wilayah yang pasti dan system pemerintahan yang tetap, missal pada jaman kerajaan kita ketahui adanya Bupati Panekar, Bupati Numbak, Bupati anyar, Bupati Bumi Gede, Bupati Panumping dan sbagainya.
     Seelah sistim administrasi di kembangkan menurut barat ( belanda) , padsa tahun 1840di keluarkan serat angger-anggeran ,nagari atau serat angger Gunung, mengatur tata tertib pemerintahaan di pedesaan. Untuk pengamanan wilayah  mka di adakan pos penjagaan keamanan sepanjang jalan lalu lintas utama antara  Surakarta – Semarang, Surakarta Yogyakarta Semarang dan nama pos penjagaan itu adalah pos Tundan yaitu sebagai tempat penjagaan pos tersebut, sedang di Daerah gubernemen juga mulai di tertibkan membentuk Regentschap atau kabupaten Administratif.
     Kemudian pembentukan pos tundan itu ditingkatkan kembali dengan pembentukan Kabupaten gunung polisi berdasarkan staatbiad 1847 no.30 dan kelengkapannya mulai statsbiad V.ned.indie,11854 no 32 sampai disini tugas seorang Bupati masih sebagai bupati prajurit dan kepala pengadilan Wilayah yang bertindak sebagai  POLISI daerah Kemudian Pemerintah Hindia Belanda Mengeluarkan  starts blaad  Van.ned indie.30 september 1918 No 14 tentang status Bupati staadblaad kemudian diikuti keluarnya Rijksblaad Surakarta 12 Oktober 1918 No 23 dan 24 yang di syahkan pelaksanaanya oleh Pranata Patih dalem no 383 th 1918 yang isinya pergantian nama abdi dalem patari (nabdi dalem gunung) beserta stafnya menjadi abdi dalem  Pangeran Praja supaya sesuai dengan status Kabupaten daerah Gubernemen.
     Para abdi dalem wedana panewu mantra kang sumengko mkasebut golongan polisi , nanging kang kewajiban nindaake babagan paprintahan ing sumengko jenenge golongan abdi dalem pangreh projo (rijksblad surakarta 1918 n0 23, : 169-171)munggah kewajiban para panewu panggedening distrik serat tumrap babagan polisi wae nagging iyo nanindaaken  babagan pamerintahan  (rijksblad surakarta 1918 n0 23, : 24-171).
Dengan ketetapan tesebut maka seluruh jawa ada sebutan Kabupaten pangreh praja , termasuk di purwodadi perlu di ketahui bahwa struktur Pemerintahan pangreh adalah sebagai berikut :
1.  Bupati di sebut bupati pangreh praja
2.  Panewu gunung di sebut wedana pangreh praja.
3.  Panewu sekretaris di sebut wedana kondanging bupati pangreh praja.
4.  Mantra gunung disebut mantra pangreh praja.
5.  Mantra sekretaris yang di sebut panewu kondanging wedana pangreh praja.
6.  Mantra polisi disebut mantra pangreh praja.

Disamping itu juga ditetapkan struktur birokrssi di tingkat distri  (kawedanan) dan onder distrik (kemantren)di daerah wilayah kabupaten pangreh praja jumlah pejabat menurut stadblad V ned indie 1924 no 18 ha 1.4u-41 rijksblad 1924 no24 hal 41-42.
·        Para pembantu sekretaris ,pembantu priyayi,termasuk golongan pangreh praja.
·        Para carik serta mantra di kabupaten pra carik,panewon dan keonderan distrik serta uang di perbantukan di algemene polisi.
·        Para priysyi yang memiliki diploma pangreh praja pemerintahan jawa serta mantra polisi.
·        Para mantra sekretaris kabupaten
·        Para panewu sekretaris
·        Para panewu pembesar distrik
·        Bupati anom pangreh praja
·        Bupati pangreh praja.

Dari penjelasan di atas setelah kita mengkaji perkembangan sejarah  Grobogan yang sekarang menjadi kabupaten Grobogan , untuk menetapkan hari jadinya dapat diajukan alternative sebagai berikut :
     Berdasarkan penjelasan di atas  maka hari jadi kabupaten Grobogan jatuh pada hari senin ,21 Jumadilahir 1050/04 Maret 1728 denagn tanda sengkala  KHIDANING HANGGA HAMBANGUN PRAJA yang bermula anggka tahun 1726. pada saat itu susuhunan amangkurat IV tahun 1726 . pada saat itu susuhunan amangkurat IV mengangkat abdi yang berjasa kepada sunan, bernama Ng wongsodipo menjadi bupati monconagari Grobogan dengan nama RT Martopuro . dalam pengangkatan di tetapkan pula wilayah yang menjadi wilayah kekuasaannya ialah sela , teras karas, wirosari, santenan , grobogan dan beberapa daerah sukowati bagian utara bengawan sala. ( babad pecina :172-174).oleh karena kota kartasura pada saat itu sedang kacau maka RT martopuro masih tetap di kartosuro sedang pengawasan di daerah grobogan di serahkan kepada kemenakannya yaitu rt. Suryonagoro ( suwandi) tugsnya menciptakan struktur pemerintahan kabupaten walaupun belum lengkap seperti adanya bupati Patih ,kaliwon,panewu,mantra, dan seterusnya sampai jabatan bekel di desa-desa.
     Pengertian mancanagari adalah Negara taklukan raja, daerah ini bukan daerah asli penduduknya segai daerah taklukan berkewajiban seba kepada raja setahun sekali. Yaitu pada hari raya garbeg perlu di ketahui sejak masa kartasura sampai masa surakarta awal wilayah kerajan jawa di bagi menjadi 3 kelompok .
Kelompok daerah yaitu :
·        Kuthonegoro yitu tempat tinggal raja keluarga raja dan pejabat tinggi kerajaan
·        Negara Agung yaitu daerah sah kerajaan daerah ini dibagi menjadi 8 kabupaten NAYAKA (di bawah Pimpinan Bupati Prajurit) kedelapan kabupaten tersebut adalah kabupaten BUMI, kabupaten Bumija,bumi gede kiwo,bumigede tengen,sewu ,numpak anyar,panumping,dan panekar.
·        Monconagari, daerah ini merupakan daerah vassal yang terdiri dari daerah monconagari kilen dan daerah monconagari wetan, serta daerah pesisir kilen dan pesisir wetan.
Dengan demikian pengangkatan ng wongsodipo sebagai bupati grobogan dengan gelar Mt martopuro,  ,walaupun belum sempurna struktur pemerintahaannya sudah dapat dikatakan sebagai saat lahirnya kabupaten Grobogan, sebab sudah memenui syarat sebagai  sebagai sebuah pemerintahan kabupaten . dari penjelasan di muka , jelas bahwa pengangkatan Bupati Grobogan atas nama Ng wongsodipo atau Rt martopuro atau Adipati puger menguasai daerah –daerah demak ,santnan,cengkal sewu,wirosari,sela,teras karas,blora dan jipang, serta daerah-daerah sukawati bagian utara bengawan sala.  Sedang sebutan adipati merupakan sebutan bagi seorang Bupati monconagari yang menguasai aerah-daerah yang dikuasainya,  penataan administrasi wilayah sudah barang tentu dilakukan bertahap dan baru paa masa pembentukan kabupaten pangreh praja 1847 sistem administrasi kabupaten sudah bias dikatakan mendekati sempurna, seperti kabupaten tingkat II semarang sekarang. Disampinh itu Ng wongsodipo atau Rt martopuro atau Adipati puger menjabat bupati grobogan sampai meninggalya 1753  dan nantinya digantikan oleh menantunya : RT suryonegoro dengan gelarnya RT Yudonagoro.
     Dari penjelasan diatas maka tanggal 4 maret 1726 di tetapkan sebagai hari jadi kabupaten grobogan di tandai SURYA SANGKALA HARI JADI GROBOGAN ADALAH "KRIDHANING HANGGA HAMBANGUN PRAJA”” bernilai angka tahun 1726 mengingat sejak waktu itu kabupaten grobogan telah ada dan memiliki perangkat yang  yang di syaratkan bagi adanya sebuah kabupaten yaitu adanya :: wilayah,rakyat dan pemerintahan walaupun belum sempurna.
     Selanjutnya ahir uraian dari bab ini perlu disebutkan para bupati yang pernah memerintah kabupaten grobogan .  menurut data yang ada Kabupaten grobogan dengan ibu kota grobogan  pindah ke purwodadi terjadi pada tahun 1864 . peristiwa tersebut hanyalah merupakan peristiwa perpindahan pusat pemerintahan kabupaten grobogan , jadi tidak terjadi perubahan status daerah tersebut , dalam perkembangan selanjutnya kita ketahui bahwa pada tahun 1928 (staadblad, 1928 no.117) kabupaten mendapat tambahan dua distrik ( KAWEDANAN) dari kabupaten demak , yaitu :
1.  kawedanan distrik manggar dengan ibukotanya di godong.
2.  kawedanan singin kiduldengan ibukotanya gubug.
Maka  sejumlah desa di wilayah kabupaten grobogan dengan tambahan dus kawasan tersebut semula terdiri atas 129 desa menjadi 280 desa sampai sekarang pada tanggal 1 januari 1930  (staadlad 1930 no 3) berdirilah regent schapsraad ( dewan kabupaten) grobogan sebagai badan ekonomi di mana regent ( bupati) sebagai ketuanya.
     Pada bulan april 1932, asistenan Karangasem , kawedanan wirosari di hapus dan pada bulan September 1933 asistenan godoh kawedanan manggar juga di hapus  (staadblad 1932 no 16  , staadblad 1933 no 51), kemudian mendapatkan tambahan asistenan klambu distrik undaan kudus , pada bulan maret 1942 di masa perang dunia ke II daerah grobogan tidak luput dari pendudukan tentara jepang , pada waktu itu bupati grobogan R.adipati ario Soekarman masrthohadinagoro meninggalkan kota purwodadi dan mengungsi di pesanggrahan argomulyo (milik perhutani) tetapi tidak lama kemudian oleh jepang di serahkan kembali ke purwodadi di tetapkan sebagai KENTYA ( BUPATI) grobogan pada tahun 1944 bupati aryo soekarman dipindah ke semarang dan jabatannya di gantikan oleh R.soegeng sampai tahun 1946.
     Untuk jelasnya nama-nama bupati pernah menjabat memerintah kabupaten grobogan sejak adipati martopuro tahun 1726  adalah sbagai berikut : 
A. PADA WAKTU IBUKOTA KABUPATEN MENETAP DI KOTA GROBOGAN:
1. ADIPATI MARTOPURO ATAU ADIPATI PUGER :1726 - 1753
2. RT. SURYONAGORO SUWANDI ATAU RT. YUDONAGORO  : 1753 - 1761
3. RT. KARTIDIREJO : 1761 - 1768 PINDAHAN DARI BUPATI SUKAWATI
4. RT. YUDONAGORO : 1768 - 1775  KEMUDIAN PINDAH KE PEKALONGAN
5. R. NG.SOROKERTI ATAU RT. ABINARONG 1  : 1775 - 1787.
6. RT. YUDOKERTI ATAU RT. ABINARONG II  : 1787 - 1795.
7. RM. T SUTOYUDO  : 1795 - 1801
8. RT. KARTOYUDO  : 1801 - 1815
9. RT. SOSRONAGORO I  : 1815 -1840
10. RT SOSRONAGORO II  : 1940 - 1864
B. SETELAH  IBUKOTA KABUPATEN MENETAP DI KOTA PURWODADI PADA TAHUN 1864 :
11. RT. ADIPATI MARTONAGORO  : 1864 -1875
12. RM. ADIPATI ARIO YODONAGORO  : 1875 - 1902
13. RM. ADIPATI ARIO HARYOKUSO  : 1902 -1908
14.  PANGERAN ARIO SUNARYO  : 1908 - 1933    PENCIPTA  TRILOGI PEDESAAN   YAITU   DIDESA -DESA HARUS ADA SEKOLAH DESA. BALAI DESA DAN LUMBUNG DESA
15. R ADIPATI ARIO SUKARMAN MARTOHADINEGORO  : 1933 - 19944
16.  R. SUGENG  : 1944 - 1946
17.  KASENO  : 1946 -1948   BUPATI MERANGKAP KETUA KNI
18.  M. PRAWOTO SUDIBYO : 1948 - 1949
19.  R. SUBROTO  : 1949 - 1950
20. R. SADONO  : 1950 -1945 - BUPATI KEPALA DAERAH
21. H. ANDI PATOPOI  : 1945 -1957  BUPATI KEPALA DAERAH
22.  H. ABDUL HAMID SEBAGAI PEJABAT BUPATI DAN RUSLAN  SEBAGAI KEPALA DAERAH YANG MEMERINTAH BERSAMA - SAMA
23. R. UPOYO PRAWIRO DILOGO  :  1958 - 1964   BUPATI KEPALA DAERAH MERANGKAP KETUA DPRDGR.   BUPATI  INILAH  YANG  MEMPRAKARSAI  PEMBANGUNAN  MONUMEN  OBOR  GANEFO  I   DI MRAPEN
24.  SUPANGAT  : 1964 - 1967  BUPATI KEPALA DAERAH MERANGKAP KETUA DPRGR 
25.  R. MARJABAN  : 1967 - 1970   PEJABAT BUPATI KEPALA DAERAH
26.  R. UMAR KHASAN  : 1970 - 1974  PEJABAT BUPATI KEPALA DAERAH
27.  KOLONEL. INF. H. SOEGIRI  : 11 JULI 1974 - 11 MARET 1986  BUPATI KEPALA DAERAH
28. KOLONEL H. MULYONO, US  11 MARET 1986 - 1991  DAN  11 MARET 1991-1996 BUPATI KEPALA DAERAH
29. H.TORMUDI SOEWITO  : 11 MARET 1996  - 2001    BUPATI KEPALA DAERAH
30. AGUS SUPRIYANTO SE. & BAMBANG PUJIONO SH.  : 12 MARET 2001 - 2006    BUPATI KEPALA DAERAH & WAKIL BUPATI KEPALA DAERAH
  asal mula daerah itu disebut grobogan menurut cerita tutur yang beredar di daerah grobogan suatu ketika, pasukan demak di bawah pimpinan sunan ngundung & sunan kudus menyerbu ke pusat kerajaan mojopahit. Dalam pertempuran tersebut pasukan demak memperoleh kemenangan gemilang. Runtuhlah kerajaan mojopahit. Ketika sunan ngundung memasuki istana, dia menemukan banyak pusaka mojopahit yang ditinggalkan. Benda - benda itu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam sebuah grobog, kemudian dibawa sebagai barang boyongan ke demak.
Di dalam perjalanan kembali ke demak grobog tersebut tertinggal di suatu tempat karena sesuatu sebab. Tempat itu kemudian disebut grobogan. Dengan demikian menurut cerita di atas " grobog" berarti tempat menyimpan senjata/ barang pusaka
Peristiwa tersebut sangat mengesankan hati sunan ngundung. Sebagai kenangan, maka tempat tersebut di beri nama grobogan, yaitu tempat grobog.  
Purwodadi sebagai kota kabupaten grobogan mempunyai arti  yaitu "purwa" berarti "permulaan" (jawa : kawitan). "dadi" artinya "jadi" (jawa : dumadi). Jadi "yang mula - mula jadi, purwaning dumadi : sangkan paraning dumadi. Hal ini dikaitkan dengan cerita aji saka dengan carakan jawa-nya yang mengandung ajaran filsafat hidup dan kehidupan manusia "manunggaling kawula gusti", dari sejak asal mula manusia di dunia ini  
Jumlah penduduk di kabupaten grobogan pada tahun 2001 adalah sebesar 1.324.417 jiwa, yang terdiri dari
655.376 jiwa penduduk laki - laki
669.041 jiwa penduduk perempuan
Dengan demikian , jumlah penduduk perempuan lebih besar daripada penduduk laki - laki.
Laju pertumbuham penduduk di kabupaten grobogan 1,3 meskipun memiliki kecenderungan menurun, namun masih belum mencapai target laju pertumbuhan penduduk ideal yaitu laju pertumbuhan nol ( zero population growth).   
Pekerjaan penduduk di kabupaten grobogan diperinci per kecamatan berdasarkan penduduk 10 tahun keatas, yang bekerja selama seminggu menurut lapangan pekerjaan pada tahun 1998
Penduduk yang bekerja pada sektor 
Pertanian adalah yang terbesar mencapai 73.72 %
Pengusaha 2,20 %
Buruh industri / konstruksi 7,06%
Pedagang 5,06%
Pegawai negeri sipil / tni / polri 3,1 %
Pensiunan 0,98 %
Lainnya 7,87 %
Dari jumlah penduduk yang bekerja sebesar 722.708. Sedangkan penduduk yang bekerja dibanding dengan jumlah penduduk usia produktif ada 77,69%  
Tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk berumur 5 tahun keatas di kabupaten grobogan tahun 1998 adalah :
Tidak sekolah sebanyak 89.819 orang (7,85 %)
Belum tamat sd 200.929 orang (17,57%)
Tidak tamat sd 98.761 orang (8,64 %)
Tamat sd 590.413 orang (51,63 %)
Tamat sltp 97.648 orang (8,54 %)
Tamat smu / smk 59.361 orang (5,19 %)
Tamat akademi / perguruan tinggi 6.712 orang (0,59 %)
  
Secara administratif kabupaten grobogan terdiri dari
19 kecamatan
264daerah pedesaan
16 daerah perkotaan
273 desa
7 kelurahan
1409 dusun
8350 rt
1.683 rw 
Dari segi potensi pertanian, kabupaten  grobogan termasuk salah satu penyangga beras nasional dimana hal itu ditunjang dengan pengairan yang baik yaitu dari bendungan klambu, bendungan sedadi,bendungan kedung ombo dan lain - lain. 
Dari segi industri tempat ini adalah sangat strategis ditinjau dari letaknya dimana seperti yang telah diterangkan di letak geografi di atas yaitu berdekatan dengan semarang, boyolali, solo, sragen, blora, pati, kudus, dan demak hal itu sangat potensial sekali apa lagi ditunjang oleh tenaga kerja yang banyak dan berdedikasi serta loyalitas tinggi.
Banyak potensi kepariwisataan yang dimiliki baik wisata alam maupun seni budaya yang bisa anda nikmati dari daerah ini, jadi langsung saja anda kunjungi maka anda akan terkesan dengan segala hal yang ada di kabupaten grobogan ini termasuk masakan khas purwodadi yaitu sweike dan garang asemnya serta oleh - oleh berupa garam dari bleduk dan kecap asli purwodadi yang rasanya sangat unik dan enak untuk dinikmati. 

SEKILAS TENTANG DESA TAMBAKSELO 
PENDAHULUAN
Masyarakat Desa terbentuk dari berbagai ikatan , ikatan yang pertama melahirkan bentuk yang dinamakan genealogis sedangkan yang ke dua adalah ikatan territorial,,  geneologis adalah keturunan sedangkan territorial adalah wilayah / wengkon , dan sudah pasti bahkan mesti suatu desa memiliki unsure yaitu gotong-royong yang kuat, bahkan melebihi clien dan patron , sebab tata kehidupan yang berjalan adalah saling bertemu, berhadapan baik individu mauoun kelompok dimana mengenal satu sama lain seperti mengenal dirinya sendiri.
Kata Desa berasal dari bahasa sanksekerta , desya. Serta pengaturan desa bias di telaah secara histories semenjak di temukannya prasasti himawalandit (+1350) yang memuat kata swatantra yang dapat di artikan sebagai kewenangan utuk menyeelenggarakan rumah tangganya sendiri dan prasasti kawali (+1350) yang memuat kata Desa secara normative ,  desa oertama kali di temukan oleh Mr. herman warner muntunhe pada tanggal 14 juli 1817 di pesisiran pulau jawa utara pada waktu menjadi anggota raad van indie semasa pemerintahan lutenan gubernur general Thomas Stamford raffles, . untuk pertama kalinya desa merupakan lembaga terendah di singgung dalam undang – undang pertama hindia belanda, yang terkenal dengan nama REGLEMENT OP HET BELEID DER REGERING VAN NEDERLANDS INDIE      tahun 1845.
     Sebagai pelaksanaan dari pasal-pasal dalam REGLEMENT OP HET BELEID DER REGERING VAN NEDERLANDS INDIE , maka pada tahun 1906 dikeluarkan suatu ordonatie java and madura  ( igo-inlandsche gemente ordonatie), staatblad no 83 tahun 1906 yang mengatur pemerintahan desa di jawa dan madura yang di kenal dengan nama gementee ordonantie sedangkan luar jawa di tetapkan dengan aturan tersebdiri.
     Desa-desa yang di bentuk pada  saat itu lebih bersifat desa geneologis, di mana warga desa memiliki hubungan kekeluargaan sehingga sistim nilai yang berlaku dalam mengatur kepantingan bersama warga desa adalah adapt-istiadat masyarakat setempat, walaupun di dalam ordonasi di atur tentang pemerintahan Desa, dan jelas juga pada kamus bahasa Indonesia  1993-200 secara jalas mengungkapkan bahwa desa adalah sekelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan ;kampong; dusun ;udik;dusun.
     Setelah kemerdekaan maka pengaturan mengenai desa menjadi bagian dari kabupaten yang berpedoman pada undng-undang.
Dari urauan diatas sejarah kabupaten grobogan yang telah mengalami pergeseran maupun perubahan tata pemerintahannya baik yang menyangkut susunan dan wilayahnya maka di wilayah pedesaannpun mengalmi penggabungan maupun pemecahan suatu Desa , dari wilayah desa Tambakselo kususnya terjadi penggabungan antara wilayah Jatisemen dan kenteng gadon gading , Jatitengah ,Ragem Jatisari ,Tambakrejo, Krajan ,Bangsri menjadi satu kesatuan,mengingat sebelum diadakan penyatuan wilayah Desa Tambakselo Wilayah Kecamatan wirosari(sekarang)yang dulunga adalah wilayah / statusnya adalah kawedanan dan kecamatannaya/assitenannya berada di karangasem sesuai dengan (staadblad 1932 no 16  , staadblad 1933 no 51) maka di hapus kemudian terjadilah penggabungan dan pemecahan Desa.
Sebelum adanya terbit atuuran tersebut untuk jatitengh dan tumpuk, ragem,kenteng,gadon ,gading kalau menghadiri panggilan  rapat atau perintah masih di bawah asisten wedono di karangasem  .
Memang sangat panjang sejarah suatu Desa apalagi keadaan jaman dulu sangatlah beda jauh teruta dalam sarana transportasinya, Kembalai ke Desa Tambakselo ,kalau menilik dari nama – nama dusun maupun nama yang lain yaitu nama makam Sentono maka bisa di bayangkan bahwa sentono itu adalah nama yang sama dengan lokasi prasasti majapahit , itu berarti bahwa memang sungguh panjang sejarah terbentuknya wilayah Desa ini bisa diartikan sejak jaman majapahit kemungkinan Desa Tambakselo sudah ada , tetapi kita hanya bisa menulis apa yang masih bisa di dengar dan di telik walau sedikit dengan bukti fisik nya, mungkin nanti ada bukti-bukti lagi ysng akan memperjelas keberadaan asal-usul Desa Tambakselo Yang Sangat Kita Banggakan..

Juga dari cerita tutur orang jawa banyak cerita yang mengiringi lahirnya desa tambakselo yaitu salah satunya adalah
Bahwa di daerah tersebut dulunya ada tambak/bendungan yang sangat panjang yang terdiri dari selo / batu bebatuan , yang dibangun jaman pemerintahan  belanda, ada cerita juga dari sesepuh desa tambakselo, bahwa batu- batu yang di gunakan atau dipakai untuk membendung wilayah tambakselo di angkut dari batu batu besar yang di seret menggunakan sapi maupun kerbau di ganjal dengan roda kayu untuk meluncurkan batu batu tersebut, batu batu tersebut berasal dari timur balai desa Tambakselo sekarang, mengingat wilayah Desa Tambakselo meupakan dataran rendah di bandingkan dengan wi layah di sekelilingnya , dan juga sebelum ada Bendungan tirto sekarang, dulu ceritanya akan di bangun bendungan di wilayah Jatisemen(sekarang)  yang akan di gunakan belanda untuk mengairi wilaya Tambakselo ke selatan, karma air tidak bias mengalir karma wilayah jatisemen(sekarang) lebih rendah posisi ketinggiannya, maka bendungan tersebut tak terpakai konon juga sebelum jadi sudah keburu keena petir, dan apabila bendungan tersebut bisa terpakai otomatis wilayah jatisemen ke utara terjadi genangan air yang banyak.
Maka penulis menyimpulkan pada masa bendungan jatisemen sekarang)  itu sudah finis pembangunannya wilayah jatisemen keutara di bangunlah tambak batu-batu yang konon ceritanya berukuran yang sangat besar yang di pindahkan tidak hanya dengan tnaga manusia tapi juga dengan tenaga hewan dengan sistem kerja jaman belanda yang bertujuan untuk membendung air luapan maka di situlah ahirnya batu-batu di susun di tata  yang sangat banyak jumlahnya serta besar ukuranya agar supaya pengaturan pengaiaran air bisa sesuai rencana ,tetapi kemungkinan alam berkehendak lain karma memang di sekeliling Desa Tambakselo dulunya adalah hutan dan perbukitan yang ahirnya jumlah volume air yang sangat luar biasa mengakibatkan bendungan tersebut tidak berfungsi atu tidak kuat menampung debet air yang sangat banyak volumenya .
Dengan tidak selesainya pembangunan pengairan oleh belanda tersebut yang memang di kenal sebagai negara yang ahli dalam pembangunan bendungan maka di cari tempat yang lebih tinggi oleh karma itu maka pembangunan ke 2 di kerjakan di wilayah  yang sekarang di namakan dusun bangsri/yang di kenal di bayanan itulah kira-kira.
Dan setelah Tambakselo  sudah menjadi sebuah desa maka sebelah barat adalah wonorejo dan selatan adalah Dusun Tambakrejo keselatan lagi adalah Dusun Jatisari,bekas bendungan adalah jatisemen dan welahan,keutara adalah dusun bangsri dusun  jatitengah,dusun tumpuk,ragem,dusun kenteng,gadon,gading,sendangwaru dan di lingkup balai Desa adalah dusun krajan.
Banyak tokoh desa yang mengiringi perkembangan Desa Tambakselo salah satunya adalah ulama – ulama yang menyiarkan agama islam di wilayah Tambakselo sehingga sampai sekarang Desa Tambakselo termasuk Desa sebagai Tempat pendidikan Agama Islam Baik MI maupun Ponpes – ponpesnya, yang bertempat di dusun jatisari dan bangsri kususnya dan masih banyak pula tempat –tempat pengajian di setiap Masjid yang berada di dusun – dusun..

Serta masih ada pula bangunan – banunan peninggalan jaman belanda yaitu berupa bendungan dan batas – batas wilayah antara hutan dan pedesaan yang berupa tanda batas maupun yang lainnya.
     Dan juga Terbentuknya suatu desa pastilah ada sejarah yang mengiringinya yang masih menjadi ingatan di lingkungan desa tersebut ( Desa Tambakselo) .

     Wilayah desa tambakselo yang mencakup 11 kepala dusun dengan 14 nama dusun dan 11 rw 11 bpd 45 rt merupakan wilayah yang cukup besar di bandingkan dengan desa sekitarnya
1.     ragem
2.     tumpuk
3.     jatitengah
4.     gading,gadon,kenteng.
5.     sendangwaru, bangri.
6.     krajan
7.     wonorejo
8.     tambakejo
9.     jatisari
10.                     jatisemen
11.                     welahan

Masing –Nasing Dusun Mempunyai Sejarah Tersendiri , Di Sini Kami Juga akan menceritakan para pejuangan leluhur yang mengiringi perjalanan Desa Tambakselo yang masih teringat adalan kemenangan para tokoh maupun jawara desa dalam memenangkan sayembara dalam penangkapan seorang bernama tirto bulayat yaitu seorang yang mempunyai kelompok / gerombolan yang membangkang dan memalsu uang dan sangat sakti waktu itu dan tidak ada pendekar manapun yang bisa menumpasnya yang pada ahirnya bisa di tangkap dan diserahkan kepada pemerintahan belanda oleh tokoh Desa Tambakselo waktu itu.

     Perlu Di Ceritakan Pula Petutur Dari Sesepuh Desa Tambakselo Bahwa Sebelum Desa Tambakselo Seperti Sekarang Ini Dulunya Terdapat Banyak Kelurahan/Wilayah Yang Dipimpin Oleh Lurah/Bekel Dan Ada Balai Desanya Masing – Masing Sampai Pada Ahirnya Menjadi Satu Kesatuan Menjadi Desa Tambakselo Yang Sampai Sekarang Dinama Balai Desanya/Kantor Kepala Desa Berada Di Dusun Krajan Dengan Lurah/Kepala Desa
  1. NOLOBONO (1922)…Anaknya Pardi (1927)..!930.
  2. PARTO REJO PARMEN .
  3. PARDI 1960 -1969.
  4. MAHFUD RIDHO 1973-1999.
  5. SODIKIN 1999-2006.
  6. SAREH JOKO PRASETYO.
     Terdapat tempat tempat makam para kyai-kyai yang setiap tahunnya selalu di adakan haul yaitu kiayi Habibah, Kiai Andurahman,Kiai Idris, Kiai/Mbh Turi, yang merupakan penyiar islam di wilayah Desa Tambakselo.
Adanya makam-makam para kiayi tersebut maka tidak lepas dari penyebarab islam yang di bawa pleh para wali atau keluarga wali songo melalui jalur pantura / jalur jalan raya pos jaman belanda yaitu antara   Kendal Semarang Demak Kudus Pati  Juwana Rembang  Lasem Tuban Sidayu Gresik Surabaya Wonokromo Waru di jalur tersebut besar keungkinan lintas asintenan karangasem kawedanan wirosari menuju pati digunajan  sebagai jalur alternative dari rute perjalanan maka dari itu banyak persinggahan – persinggahan (ampiran)  berada di daerah Wirosari termasuk ampiran adipati pragola di kauman wirosari .sejarah desa tambakselo tidak lepas dari kejadian yang terjadi di kadipaten grobogan dan kesultanan Mataram karma masih termasuk wilayah grobogan walaupun juga dapat masukan budaya dari kesultanan Demak bintoro terlebih lagi dari perjalanan para wali songo dalam penyebaran islam.
Prajurit Patangpuluhan adalah prajurit yang pada masa dulu merupakan pasukan elit Kerajaan Demak Bintoro berjumlah 40 orang. Pasukan ini dipimpin oleh seorang Manggolo Yudho yang disebut "Lurah Tamtomo", dengan dua orang pengapit (ajudan). Terdapat pula seorang Wiro tamtomo dan 3 Bintoro.
Keberadaan prajurit patangpuluhan sampai saat ini masih dipertahankan sebagai bagian dari acara Grebeg Besar yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah. dalam acara pemberangkatan minyak jamas. yaitu mengawal minyak yang akan dikirim ke Sesepuh Kadilangu untuk menjamas pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, berupa keris Kiyai crubuk dan Kutang Ontokusumo.
Juga terdapat cerita popular Sarip Tambak Oso adalah sebuah legenda populer di Jawa Timur yang sering dipentaskan dalam pertunjukan Ludruk, terutama di daerah Surabaya dan Sidoarjo. Kisahnya tentang seorang pencuri budiman bernama Sarip yang berani menentang pemerintahan kolonial Hindia Belanda di daerahnya.

Kisah Sarip (berdasarkan rekaman Ludruk wijaya Kusuma tahun 1970an)

Dusun Tambak Oso dibagi menjadi 2 wilayah yang dibatasi oleh sebuah sungai, wilayah tersebut biasa disebut Wetan kali dan Kulon Kali. Masing-masing wilayah mempunyai Jagoan (orang yang disegani karena kesaktiannya). Wilayah Kulon kali di kuasai oleh seorang jagoan bernama Paidi, dan Wetan kali dikuasai oleh Sarip.
Paidi adalah seorang pendekar yang berprofesi sebagai Kusir Dokar yang mempunyai senjata andalan berupa Jagang yang terkenal dengan sebutan Jagang Baceman. Sarip adalah pemuda jagoan dari desa Tambak Oso yang berhati keras, mudah marah, namun sangat menyayangi kaum miskin, terutama kepada ibunya yang seorang janda. Di tengah kemiskinan dan kebodohan, Sarip bertindak sebagai maling budiman yang mencuri di rumah-rumah orang Belanda, saudagar kikir, dan para lintah darat, untuk dibagi-bagikan kepada warga miskin.
Sarip selalu menjadi Target Operasi Government Belanda, karena perbuatannya yang dianggap membuat keonaran dan memprovokasi masyarakat untuk menentang kebijakan Belanda. Suatu hari, sarip mendapati Ibunya sedang dihajar oleh Lurah Gedangan karena ibunya tidak dapat membayar pajak tanah garapan berupa tambak. Melihat hal tersebut Sarip marah dan langsung menghabisi nyawa Lurah Gedangan dengan sebilah pisau dapur yang menjadi senjata andalannya.
Dilain hari diceritakan Saropah (adik misan Sarip) hendak pulang dari Nagih pada orang2 yang terpaut utang dengan orang tuanya, ditengah jalan bertemu dengan Sarip dan pada saat itu Sarip bermaksud meminjam uang pada Saropah, karena belum mendapat izin dari orang tuanya, Saropah tidak mengabulkan permintaan Sarip. Sarip yang punya perangai kasar tidak sabar dan memaksa Saropah untuk menyerahkan Arloji yang sedang dipakainya, dan disaat terjadi perseteruan tersebut munculah Paidi yang hendak menjemput Saropah. Oleh Orang tua Saropah Paidi memang telah dipercaya untuk menjaga Saropah agar aman dari ancaman orang2 yang tidak senang. Setelah terjadi perang mulut antara Sarip dan Paidi, terjadilah duel antara dua pendekar tersebut. Sebilah pisau dapur ternyata tidak lebih mumpuni dibanding Jagang Baceman yang notabene lebih panjang, akhirnya Sarip tewas dalam perkelahian tersebut dan mayatnya dibuang di sungai Sedati.
Dibagian hilir sungai Sedati, Ibunda Sarip "Mbok e Sarip" tengah mencuci pakaian, entah kenapa pikirannya gundah gulana memikirkan anak keduanya itu. Dia berhenti mencuci karena ada warna merah darah yang mengalir disungai itu, dia berjalan mencari sumber darah tersebut, alangkah terkejutnya dia ketika didapatinya sumber warna merah tersebut adalah mayat anaknya. Spontanitas dia menjerit seraya berteriak " Sariiip durung wayahe Nak.....". Anehnya Sarip         bangkit dari kematiannya dan segera berlari menemui ibunya, kemudian menanyakan kepada ibunya tentang hal apa yang terjadi pada dirinya dan kenapa dia tidur disungai. Kemudian ibunya bercerita, ketika Sarip masih dalam kandungan, Ayahnya bertapa di Goa Tapa (daerah Sumber Manjing)selama beberapa waktu, dan ayahnya kembali pada saat anak keduanya telah lahir dengan membawa sebongkah kecil tanah merah "Lemah Abang". Selanjutnya tanah tersebut dibelah dan diberikan pada Sarip dan Ibunya untuk dimakan. Dikatakan oleh ayah Sarip, bahwa Sarip akan dapat bangkit dari kematian apa bila ibunya masih hidup, meskipun ia terbunuh 1000x dalam sehari.(dilanjut nanti lagi...masih panjang by: Cak Wandoyo)
Demikian salah satu cerita yang menarik kita gunakan sebagai gambaran dari budaya masyarakat era tujupuluhan yang tidak menutup kemungknan cerita ersebut di ilhami dari cerita-cerita sebelumnya tetapi cerita tersebut tidak sama dengan keadaan di mana tempat dan pelaku disebutkan apabila terdapat nama yng sama itu hanya kebetulan.