ASAL
USUL HARI JADI KABUPATEN GROBOGAN DAN SEKILAS TENTANG DESA TAMBAKSELO
GROBOGAN
ADALAH SALAH SATU KABUPATEN DI JAWA TENGAH INDONESIA, DENGAN WILAYAHNYA
TERLETAK DIANTARA PEGUNUNGAN KENDENG UTARA DAN PEGUNUNGAN KENDENG SELATAN
YANG
KEDUANYA MEMBUJUR DARI BARAT KE TIMUR. TERLETAK DIANTARA (110° 75' - 111°
25' BT DAN 7° - 7° 30' LS)110 DERAJAT 75 MENIT SAMPAI 111
DERAJAT 25 MENIT BUJUR TIMUR. 7,7 DERAJAT 30 MENIT LINTANG
SELATAN
BATAS WILAYAHNYA MELIPUTI :
SEBELAH UTARA --> KABUPATEN DATI II DEMAK, KUDUS, PATI DAN
BLORA.
SEBELAH TIMUR --> KABUPATEN DATI II BLORA.
SEBELAH SELATAN --> KABUPATEN DATI II SEMARANG, BOYOLALI, SRAGEN DAN KABUPATEN
NGAWI (JAWA TIMUR).
SEBELAH BARAT --> KABUPATEN DATI II SEMARANG DAN DEMAK
SECARA
GEOGRAFIS LUAS WILAYAH KABUPATEN DATI II GROBOGAN ADALAH 1.975,86
Km².
DAN
MERUPAKAN WILAYAH TERLUAS NOMOR DUA SETELAH KABUPATEN CILACAP DI JAWA TENGAH
KABUPATEN
GROBOGAN YANG IBU KOTANYA DI PURWODADI, MENURUT PERDA KAB. GROBOGAN NO 11 TAHUN
1991 TENTANG PENETAPAN HARI JADI KABUPATEN GROBOGAN HARI JADINYA SENIN KLIWON ,
21 JUMADILAKIR 1650 SAKA ATAU 4 MARET1726
MENURUT SUMBER LAINNYA :
Grobogan
Hari Jadi : 4 Maret 1726
Tgl.Qomaria : 1 Rajab 1138 H
Hari : senin 4
Pasaran : Pahing 9
Umur Pada Tgl 08 November 2001 : 275 tahun, 8 bulan, 5 hari
Bintang : Pisces
Wuku : Wukir
Shio : Kuda
Elemen : Api (+)
Hari Jadi : 4 Maret 1726
Tgl.Qomaria : 1 Rajab 1138 H
Hari : senin 4
Pasaran : Pahing 9
Umur Pada Tgl 08 November 2001 : 275 tahun, 8 bulan, 5 hari
Bintang : Pisces
Wuku : Wukir
Shio : Kuda
Elemen : Api (+)
CHANDRA
SENGKALA HARI JADI GROBOGAN ADALAH "KOMBULING CIPTO HANGROSO JATI".
SURYA
SANGKALA HARI JADI GROBOGAN ADALAH "KRIDHANING HANGGA HAMBANGUN PRAJA"
Ceritanya
pada saat itu susuhunan amangkurat iv mengangkat seorang abdi
yang telah berjasa kepada sunan,
Bernama ng.
Wongsodipo menjadi bupati monconagari (taklukan raja) grobogan dengan nama rt
martopuro pada 21 jumadilakir 1650 saka atau 4 maret1726. Dalam
pengangkatan ini ditetapkan pula wilayah yang menjadi kekuasaannya yaitu : .
Sela, teras karas, wirosari, santenan, grobogan, dan beberapa daerah di
sukowati bagian utara bengawan sala (serat babad kartasura / babad pacina :
172 - 174).
Oleh
karena kota
kartasura pada waktu itu sedang dalam keadaan kacau, maka rt martopuro masih
tetap di kartasura. Sedang pengawasan terhadap daerah grobogan diserahkan
kepada kemenakan sekaligus menantunya bernama rt suryonagoro (suwandi).
Tugasnya menciptakan struktur pemerintahan kabupaten pangreh praja. Seperti
adanya bupati patih, kaliwon, pamewu, mantri, dan seterusnya sampai jabatan
bekel di desa – desa dengan ibu kotanya di grobogan.tetapi pada tahun 1864
ibukota kabupaten grobogan pindah ke purwodadidipimpin oleh rt. Adipati
martonagoro 1864 - 1875 dan sampai sekarang ibu kota kabupaten grobogan
masih di kota purwodadi.
Sebelumnya
kita lihat sekilas tentang sejarah kesultanan yang mengiringi terbentuknya
suatu wilayah ataupun daerah Pula Jawa salah satunya adalah Kesultanan
Pajang sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah sebagai kelanjutan Kesultanan Demak. Kompleks keraton, yang sekarang tinggal batas-batas
fondasinya saja, berada di perbatasan Kelurahan Pajang, Kota Surakarta dan Desa Makamhaji,
Kartasura, Sukoharjo.
Asal-usul
Sesungguhnya
nama negeri Pajang sudah dikenal sejak zaman Kerajaan
Majapahit. Menurut Nagarakretagama yang ditulis tahun
1365, ada seorang adik perempuan Hayam Wuruk (raja Majapahit saat itu) menjabat sebagai
penguasa Pajang, bergelar Bhatara i Pajang, atau disingkat Bhre
Pajang. Nama aslinya adalah Dyah Nertaja, yang merupakan ibu dari Wikramawardhana, raja Majapahit selanjutnya.
Dalam
naskah-naskah babad, negeri Pengging disebut sebagai cikal bakal
Pajang. Cerita Rakyat yang sudah melegenda menyebut Pengging sebagai kerajaan
kuno yang pernah dipimpin Prabu Anglingdriya, musuh bebuyutan Prabu Baka raja
Prambanan. Kisah ini dilanjutkan dengan dongeng berdirinya Candi Prambanan.
Ketika Majapahit dipimpin oleh Brawijaya (raja terakhir versi naskah babad),
nama Pengging muncul kembali. Dikisahkan putri Brawijaya yang bernama Retno Ayu Pembayun
diculik Menak Daliputih raja Blambangan putra Menak
Jingga. Muncul seorang pahlawan bernama Jaka Sengara yang berhasil
merebut sang putri dan membunuh penculiknya.
Atas
jasanya itu, Jaka Sengara diangkat Brawijaya sebagai bupati Pengging dan
dinikahkan dengan Retno Ayu Pembayun. Jaka Sengara kemudian bergelar Andayaningrat.
Kesultanan Pajang
Menurut
naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara
Majapahit dan Demak.
Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar
Ki Ageng
Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kesultanan Demak.
Beberapa
tahun kemudian Ki Ageng
Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap Demak.
Putranya yang bergelar Jaka Tingkir
setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.
Prestasi
Jaka Tingkir yang cemerlang dalam
ketentaraan membuat ia diangkat sebagai menantu Sultan Trenggana, dan menjadi bupati Pajang
bergelar Hadiwijaya. Wilayah Pajang saat itu
meliputi daerah Pengging (sekarang kira-kira mencakup Boyolali dan Klaten), Tingkir (daerah Salatiga), Butuh, dan sekitarnya.
Sepeninggal
Sultan Trenggana tahun 1546, Sunan Prawoto naik takhta, namun kemudian
tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang tahun 1549.
Setelah itu, Arya
Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal.
Dengan
dukungan Ratu
Kalinyamat (bupati Jepara putri Sultan Trenggana), Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil
mengalahkan Arya Penangsang.
Ia pun menjadi pewaris takhta Kesultanan Demak, yang ibu kotanya dipindah
ke Pajang.
Perkembangan
Pada
awal berdirinya tahun 1549, wilayah Kesultanan Pajang hanya meliputi sebagian Jawa Tengah saja, karena negeri-negeri Jawa Timur banyak yang melepaskan diri
sejak kematian Sultan
Trenggana.
Pada
tahun 1568 Sultan
Hadiwijaya dan para adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan
Prapen. Dalam kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui
kedaulatan Pajang di atas negeri-negeri Jawa Timur. Sebagai tanda ikatan politik,
Panji Wiryakrama dari Surabaya
(pemimpin persekutuan adipati Jawa Timur)
dinikahkan dengan putri Sultan
Hadiwijaya.
Negeri
kuat lainnya, yaitu Madura juga
berhasil ditundukkan Pajang. Pemimpinnya yang bernama Raden Pratanu alias Panembahan Lemah Dhuwur juga diambil
sebagai menantu Sultan
Hadiwijaya.
Wali Songo
Pada
zaman Kesultanan Demak,
majelis ulama Wali Songo
memiliki peran penting, bahkan ikut mendirikan kerajaan tersebut. Majelis ini
bersidang secara rutin selama periode tertentu dan ikut menentukan kebijakan
politik Demak.
Sepeninggal
Sultan Trenggana, peran Wali Songo ikut memudar. Sunan Kudus bahkan terlibat pembunuhan
terhadap Sunan Prawoto,
raja baru pengganti Sultan
Trenggana.
Meskipun
tidak lagi bersidang secara aktif, sedikit banyak para wali masih berperan
dalam pengambilan kebijakan politik Pajang. Misalnya, Sunan
Prapen bertindak sebagai pelantik Hadiwijaya sebagai sultan. Ia juga menjadi
mediator pertemuan Sultan
Hadiwijaya dengan para adipati Jawa Timur tahun 1568. Sementara itu, Sunan Kalijaga juga pernah membantu Ki Ageng
Pemanahan meminta haknya pada Sultan Hadiwijaya atas tanah Mataram sebagai hadiah sayembara menumpas Arya Penangsang.
Wali lain
yang masih berperan menurut naskah babad adalah Sunan Kudus. Sepeninggal Sultan
Hadiwijaya tahun 1582, ia berhasil menyingkirkan Pangeran Benawa dari jabatan putra mahkota, dan menggantinya dengan Arya Pangiri.
Mungkin
yang dimaksud dengan Sunan Kudus dalam
naskah babad adalah Panembahan Kudus, karena Sunan Kudus sendiri sudah meninggal tahun
1550.
Tanah Mataram dan Pati
adalah dua hadiah Sultan
Hadiwijaya untuk siapa saja yang mampu menumpas Arya Penangsang tahun 1549. Menurut laporan
resmi peperangan, Arya Penangsang
tewas dikeroyok Ki Ageng
Pemanahan dan Ki Penjawi.
Ki
Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati sejak tahun 1549.
Sedangkan Ki Ageng
Pemanahan baru mendapatkan hadiahnya tahun 1556 berkat bantuan Sunan Kalijaga. Hal ini disebabkan karena Sultan
Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan
Prapen bahwa di Mataram akan lahir
kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.
Ramalan
tersebut menjadi kenyataan ketika Mataram dipimpin Sutawijaya putra Ki Ageng
Pemanahan sejak tahun 1575. Tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang. Di bawah pimpinannya,
daerah Mataram semakin hari semakin maju dan
berkembang.
Pada
tahun 1582 meletus perang Pajang dan Mataram karena Sutawijaya membela adik iparnya, yaitu
Tumenggung Mayang, yang dihukum buang ke Semarang oleh Sultan
Hadiwijaya. Perang itu dimenangkan pihak Mataram meskipun pasukan Pajang jumlahnya
lebih besar.
Sepulang
dari perang, Sultan
Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Terjadi persaingan
antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus
berhasil naik takhta tahun 1583.
Pemerintahan
Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha
balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan
rakyat Pajang terabaikan. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke
Jipang, merasa prihatin.
Pada
tahun 1586 Pangeran
Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada
tahun 1582 Sutawijaya memerangi Sultan Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai
saudara tua.
Perang
antara Pajang melawan Mataram dan Jipang
berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia
dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak.
Pangeran Benawa kemudian menjadi raja
Pajang yang ketiga.
Pemerintahan
Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak
ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai
negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak
Baning, adik Sutawijaya.
Sutawijaya sendiri mendirikan Kesultanan
Mataram di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.
Daftar Raja Pajang
- Jaka Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya
- Arya Pangiri bergelar Sultan Ngawantipura
- Pangeran Benawa bergelar Sultan Prabuwijaya
Joko Tingkir
Jaka Tingkir, kadang-kadang juga ditulis Joko Tingkir, adalah pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Pajang yang memerintah tahun 1549-1582, bergelar Sultan Adiwijaya.Asal-usul
Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, putra Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga. Ketika ia dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir.[1] Kedua ki ageng ini adalah murid Syekh Siti Jenar. Sepulang dari mendalang, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.Sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh memberontak terhadap Kesultanan Demak. Sebagai pelaksana hukuman ialah Sunan Kudus. Setelah kematian suaminya, Nyai Ageng Pengging jatuh sakit dan meninggal pula. Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir).
Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang gemar bertapa, dan dijuluki Jaka Tingkir. Guru pertamanya adalah Sunan Kalijaga. Ia juga berguru pada Ki Ageng Sela, dan dipersaudarakan dengan ketiga cucu Ki Ageng yaitu, Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.
Silsilah Jaka Tingkir :
Andayaningrat (tidak diketahui nasabnya) + Ratu Pembayun (Putri Raja Brawijaya)→ Kebo kenanga (Putra Andayaningrat)+ Nyai Ageng Pengging→ Mas Karebet/Jaka Tingkir
Mengabdi ke Demak
Babad Tanah Jawi selanjutnya mengisahkan, Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Di sana ia tinggal di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir pandai menarik simpati Sultan Trenggana sehingga ia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.
Beberapa
waktu kemudian, Jaka Tingkir bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar
bernama Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji
kesaktiannya dan Dadungawuk tewas hanya dengan menggunakan SADAK KINANG.
Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.
Jaka
Tingkir kemudian berguru pada Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro(saudara
seperguruan ayahnya). Setelah tamat, ia kembali ke Demak
bersama ketiga murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.
Rombongan
Jaka Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge menggunakan rakit. Muncul
kawanan siluman buaya menyerang mereka namun dapat
ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut kemudian membantu mendorong rakit sampai
ke tujuan.
Saat
itu Sultan Trenggana
sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor
kerbau gila yang dinamakan sebagai Kebo Danu yang sudah diberi mantra (diberi
tanah kuburan pada telinganya). Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan
Sultan di mana tidak ada prajurit yang mampu melukainya.
Jaka
Tingkir tampil menghadapi kerbau gila. Kerbau itu dengan mudah dibunuhnya. Atas
jasanya itu, Sultan
Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.
Kisah
dalam naskah-naskah babad tersebut seolah hanya kiasan, bahwa setelah dipecat,
Jaka Tingkir menciptakan kerusuhan di Demak,
dan ia tampil sebagai pahlawan yang meredakannya. Oleh karena itu, ia pun
mendapatkan simpati Sultan kembali.
Menjadi Sultan Pajang
Prestasi
Jaka Tingkir sangat cemerlang meskipun tidak diceritakan secara jelas dalam Babad Tanah Jawi. Hal itu dapat dilihat
dengan diangkatnya Jaka Tingkir sebagai Adipati Pajang bergelar Adipati Adiwijaya. Ia juga menikahi Ratu Mas Cempa, putri Sultan Trenggana.
Sepeninggal
Sultan Trenggana tahun 1546, putranya yang
bergelar Sunan Prawoto
seharusnya naik takhta, tapi kemudian ia tewas dibunuh Arya Penangsang (sepupunya di Jipang) tahun
1549. Arya Penangsang membunuh karena Sunan Prawoto sebelumnya membunuh karena
Sunan Prawoto sebelumnya juga membunuh ayah Aryo Penangsang yang bernama
Pangeran Sekar Seda Lepen sewaktu ia menyelesaikan salat ashar di tepi Bengawan
Sore. Pangeran Sekar merupakan adik Kandung Sultan Trenggono sekaligus juga
merupakan murid pertama Sunan Kudus. Pembunuhan-pembunuhan ini dilakukan dengan
menggunakan Keris Kiai Setan Kober.
Selain itu Aryo Penangsang juga membunuh Pangeran Hadiri suami dari Ratu Kalinyamat
yang menjadi bupati Jepara.
Kemudian
Aryo Penangsang mengirim utusan untuk
membunuh Adiwijaya di Pajang, tapi gagal.
Justru Adiwijaya menjamu para pembunuh itu dengan baik, serta memberi mereka
hadiah untuk mempermalukan Arya Penangsang.
epeninggal
suaminya, Ratu
Kalinyamat (adik Sunan Prawoto)
mendesak Adiwijaya agar menumpas Aryo Penangsang karena hanya ia yang setara
kesaktiannya dengan adipati Jipang tersebut. Adiwijaya segan memerangi Aryo Penangsang secara langsung karena
sama-sama anggota keluarga Demak dan merupakan
saudara seperguruan sama-sama murid Sunan Kudus.
Maka, Adiwijaya
pun mengadakan sayembara. Barangsiapa dapat membunuh Aryo Penangsang akan mendapatkan tanah Pati
dan mentaok/Mataram sebagai hadiah.
Sayembara
diikuti kedua cucu Ki Ageng Sela,
yaitu Ki
Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi. Dalam perang itu, Ki Juru Martani (kakak ipar Ki
Ageng Pemanahan) berhasil menyusun siasat cerdik sehingga sehingga
Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan) dapat menewaskan Arya Penangsang setelah menusukkan Tombak
Kyai Plered ketika Aryo Penangsang menyeberang Bengawan Sore dengan mengendarai
Kuda Jantan Gagak Rimang.
Setelah
peristiwa tahun 1549 tersebut, Pusat kerajaan tersebut kemudian dipindah ke Pajang dengan Adiwijaya sebagai sultan pertama. Demak
kemudian dijadikan Kadipaten dengan anak Suan Prawoto yang menjadi Adipatinya
Sultan
Adiwijaya juga mengangkat rekan-rekan seperjuangannya dalam pemerintahan. Mas
Manca dijadikan patih bergelar Patih Mancanegara, sedangkan Mas Wila dan Ki
Wuragil dijadikan menteri berpangkat ngabehi.
Sesuai
perjanjian sayembara, Ki
Panjawi mendapatkan tanah Pati dan bergelar Ki Ageng
Pati. Sementara itu, Ki Ageng Pemanahan
masih menunggu karena seolah-olah Sultan Adiwijaya menunda penyerahan tanah Mataram.
Sampai tahun 1556, tanah Mataram masih ditahan Adiwijaya. Ki
Ageng Pemanahan segan untuk meminta. Sunan Kalijaga selaku guru tampil sebagai
penengah kedua muridnya itu. Ternyata, alasan penundaan hadiah adalah dikarenakan rasa cemas Adiwijaya ketika
mendengar ramalan Sunan
Prapen bahwa di Mataram akan lahir
sebuah kerajaan yang mampu mengalahkan kebesaran Pajang. Ramalan itu didengarnya
saat ia dilantik menjadi sultan usai kematian Arya Penangsang.
Sunan Kalijaga meminta Adiwijaya agar
menepati janji karena sebagai raja ia adalah panutan rakyat. Sebaliknya, Ki
Ageng Pemanahan juga diwajibkan bersumpah setia kepada Pajang. Ki Ageng bersedia. Maka, Adiwijaya pun rela
menyerahkan tanah Mataram pada kakak angkatnya itu.
Tanah
Mataram adalah bekas kerajaan kuno, bernama
Kerajaan
Mataram yang saat itu sudah tertutup hutan bernama Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan
sekeluarga, termasuk Ki Juru
Martani, membuka hutan tersebut menjadi desa Mataram. Meskipun hanya sebuah desa namun
bersifat perdikan atau sima swatantra. Ki
Ageng Pemanahan yang kemudian bergelar Ki Ageng Mataram, hanya
diwajibkan menghadap ke Pajang secara rutin
sebagai bukti kesetiaan tanpa harus membayar pajak dan upeti.
Saat
naik takhta, kekuasaan Adiwijaya hanya mencakup wilayah Jawa Tengah saja, karena sepeninggal Sultan Trenggana, banyak daerah bawahan Demak
yang melepaskan diri.
Negeri-negeri
di Jawa Timur yang tergabung dalam Persekutuan
Adipati Bang Wetan saat itu dipimpin oleh Panji Wiryakrama bupati Surabaya. Persekutuan adipati tersebut
sedang menghadapi ancaman invansi dari berbagai penjuru, yaitu Pajang, Madura, dan Blambangan.
Pada
tahun 1568 Sunan
Prapen penguasa Giri Kedaton
menjadi mediator pertemuan antara Sultan Adiwijaya dengan para adipati Bang
Wetan. Sunan
Prapen berhasil meyakinkan para adipati sehingga mereka bersedia
mengakui kedaulatan Kesultanan Pajang
di atas negeri yang mereka pimpin. Sebagai tanda ikatan politik, Panji
Wiryakrama diambil sebagai menantu Adiwijaya.
Selain
itu, Adiwijaya juga berhasil menundukkan Madura setelah penguasa pulau itu yang
bernama Raden Pratanu bergelar Panembahan Lemah Duwur Arosbaya menjadi
menantunya.
Dalam
pertemuan tahun 1568 itu, Sunan
Prapen untuk pertama kalinya berjumpa dengan Ki
Ageng Pemanahan dan untuk kedua kalinya meramalkan bahwa Pajang akan ditaklukkan Mataram melalui keturunan Ki Ageng
tersebut.
Mendengar
ramalan tersebut, Adiwijaya tidak lagi merasa cemas karena ia menyerahkan
semuanya pada kehendak takdir.
S utawijaya
adalah putra Ki Ageng Pemanahan
yang juga menjadi anak angkat Sultan Adiwijaya. Sepeninggal ayahnya tahun 1575,
Sutawijaya menjadi penguasa baru di Mataram, dan diberi hak untuk tidak
menghadap selama setahun penuh.
Waktu
setahun berlalu dan Sutawijaya tidak
datang menghadap. Adiwijaya mengirim Ngabehi Wilamarta dan Ngabehi Wuragil
untuk menanyakan kesetiaan Mataram. Mereka
menemukan Sutawijaya bersikap kurang sopan dan
terkesan ingin memberontak. Namun kedua pejabat senior itu pandai menenangkan
hati Adiwijaya melalui laporan mereka yang disampaikan secara halus.
Tahun
demi tahun berlalu. Adiwijaya mendengar kemajuan Mataram semakin pesat. Ia pun kembali
mengirim utusan untuk menyelidiki kesetiaan Sutawijaya. Kali ini yang berangkat adalah Pangeran Benawa (putra mahkota), Arya
Pamalad (menantu yang menjadi adipati Tuban),
serta Patih Mancanegara. Ketiganya dijamu dengan pesta oleh Sutawijaya. Di tengah keramaian pesta,
putra sulung Sutawijaya yang
bernama Raden Rangga membunuh seorang prajurit Tuban
yang didesak Arya Pamalad. Arya Pamalad sendiri sejak awal kurang suka dengan Sutawijaya sekeluarga.
Maka
sesampainya di Pajang, Arya Pamalad melaporkan keburukan Sutawijaya, sedangkan Pangeran Benawa menjelaskan kalau peristiwa
pembunuhan tersebut hanya kecelakaan saja. Sultan Adiwijaya menerima kedua
laporan itu dan berusaha menahan diri.
Pada
tahun 1582 seorang keponakan Sutawijaya yang
tinggal di Pajang, bernama Raden Pabelan dihukum mati
karena berani menyusup ke dalam keputrian menemui Ratu Sekar Kedaton (putri
bungsu Adiwijaya). Ayah Pabelan yang bernama Tumenggung Mayang dijatuhi hukuman
buang karena diduga ikut membantu anaknya.
Ibu
Raden Pabelan yang merupakan adik perempuan Sutawijaya meminta bantuan ke Mataram. Sutawijaya pun mengirim utusan untuk
merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya ke Semarang.
Perbuatan
Sutawijaya itu menjadi alasan Sultan
Adiwijaya untuk menyerang Mataram. Perang antara
kedua pihak pun meletus. Pasukan Pajang bermarkas di Prambanan dengan jumlah lebih banyak, namun
menderita kekalahan. Adiwijaya semakin tergoncang mendengar Gunung Merapi tiba-tiba meletus dan
laharnya ikut menerjang pasukan Pajang yang berperang
dekat gunung tersebut.
Adiwijaya
menarik pasukannya mundur. Dalam perjalanan pulang, ia singgah ke makam Sunan Tembayat namun tidak mampu membuka
pintu gerbangnya. Hal itu dianggapnya sebagai firasat kalau ajalnya segera
tiba.
Adiwijaya
melanjutkan perjalanan pulang. Di tengah jalan ia jatuh dari punggung gajah
tunggangannya, sehingga harus diusung dengan tandu. Sesampai di Pajang, datang makhluk halus anak buah Sutawijaya bernama Ki Juru Taman memukul
dada Adiwijaya, membuat sakitnya bertambah parah.
Adiwijaya
berwasiat supaya anak-anak dan menantunya jangan ada yang membenci Sutawijaya, karena perang antara Pajang dan Mataram diyakininya
sebagai takdir. Selain itu, Sutawijaya sendiri
adalah anak angkat Adiwijaya yang dianggapnya sebagai putra tertua. Pada cerita
rakyat dinyatakan bahwa sebenarnya Sutawijaya adalah anak kandung Adiwijaya
dengan anak Ki Ageng Sela.
Adiwijaya
alias Jaka Tingkir akhirnya meninggal dunia tahun 1582 tersebut. Ia dimakamkan
di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya.
Pengganti
Sultan
Adiwijaya memiliki beberapa orang anak. Putri-putrinya antara lain dinikahkan
dengan Panji Wiryakrama Surabaya, Raden Pratanu Madura, dan Arya Pamalad Tuban.
Adapun putri yang paling tua dinikahkan dengan Arya Pangiri bupati Demak.
Arya Pangiri sebenarnya adalah anak Sunan Prawoto, yang seharusnya memang
menggantikan Sultan Trenggono menjadi Raja Demak.
Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus
(pengganti Sunan Kudus)
untuk menjadi raja. Pangeran
Benawa sang putra mahkota
disingkirkan menjadi bupati Jipang. Arya Pangiri pun menjadi raja baru di Pajang, bergelar Sultan Ngawantipura.
Kedua nama "Ki Ageng" ini bukanlah
nama asli tetapi nama sebutan yang terkait dengan asal daerah keduanya.
Pengging adalah daerah di wilayah Boyolali sekarang dan Tingkir merupakan
tempat di dekat Salatiga.
Referensi
- Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
- Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
- H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
- Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
- M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
- Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
- Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
Kepustakaan
- Andjar Any. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito, Apa yang Terjadi? Semarang: Aneka Ilmu
- Andjar Any. 1979. Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon. Semarang: Aneka Ilmu
- Babad Majapahit dan Para Wali Jilid 3. 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
- Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
- H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
- Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
- M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
- Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
- Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
- Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
SUMBER – SUMBER LAHIRNYA HARI JADI KABUPATEN
GOBOGAN DAN SEKILAS TENTANG DESA TAMBAKSELO
Dari sumber lain menyebutkan bahwa pembentukan sebuah kabupaten
sama halnya dengan pembahasan terhadap terbentknya suatu pemerintahan daerah.
Yang dimaksud dengan
hari jadi ialah hari kelahiran ,dies natalis yaitu suatu saat sesuatu itu tidak
ada menjadi ada. Menurut pandangan hidup KEJAWEN hari kelehiran mengandung
makna besar dan juga sangat berarti, juga menggembirakan dan penuh makna . hari
kelahiran juga memberikan sifat-sifat tertentu kepada yang di lahirkan.
Seseorang yan baru lahir
merasa bebas dari kungkungan perut ibunya. Namun di alam bebas di harus mampu
bertahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitarnya. Panas , dingin
lapar dan dahaga harus di alami dan harus berjuang agar tetap hidup. Dia
berusaha menggunakan alat-alat tubuh yang dimilikinya menurut kemempuan untuk
dapat bertahan hidup dan keberadaannya.
Ibarat kelahiran seorang
bayi tersebut , dapat pula kita terapkan pada kelahiran suatu Negara,daerah,kota maupun pemerintahan .
walaupun masih sangat bsederhana , masih mengalami perubahan seiring kebutuhan
lingkungan maupun perubahan zaman, kelahiran suatu Negara,daerah,kota maupun pemerintahan
harus dipenuhi syarat – syarat yaitu
adanya wilayah, rakyat dan pengakuan dari yang lain sebagai pendukung serta
pemerintahan sebagai arahan dalam usaha mempertahankan kehidupan dan
keberadaannya.
Kalau menurut KEJAWEN
kelahiran suatu negara daerah,kota maupun pemerintahan didasarkan adanya pulung
, cahaya nurbuat,wahyu,andaru ataupun impian –impian,seperti termuat dari
cerita-cerita di sumber-sumber babat,maka secara rasional kelahiran suatu
Negara daerah,kota maupun pemerintahan di dasarkan pada kenyataan sejarah
peristiwa yang berupa kegiatan berupa perjuangan manusia – manusia tokoh tokoh
penumbuh berdirinya suatu Desa daerah,kota maupun pemerintahan tersebut
misalnya r. WIJAYA ( MAJAPAHIT) ,R. PATAH (DEMAK),MASKAREBET (PAJANG), P.
DAYANINGRAT (PENGGING),SUTAWIJAYA (MATARAM)P. BANJARANSARI(PAJAJARAN) dan
lain-lain.
DI dalam menurut perkembangan sejarah Grobogan untuk mencari
dan menemukan kapan daerah tersebut mulai menunjukkan kegiatan pemerintahan
secara mandiri tidak di pengaruhi oleh pemeintahan lain yang bersifat memaksa ,
usaha unu tudak lain adalah usaha untuk mencari dan menemukan kelahiran suatu
kabupaten , maka wilayah pemerintahan dalam sejarah pemerintahan jawa adalah :
secara brtingkat adalah KABUYUTAN,PATINGGEN,KADEMANGAN,KELURAHAN ATAU DESA. .
DIATAS TERDAPAT KEMANTREN ATAU KECAMATAN ATAU ONDER DISTRIK,KAWEDANAN ATAU
ONDER REGENTSCHAP DAN TERAHIR ADALAH KABUPATEN GUNUNG, KABUPATEN PANGREH PRAJA
ATAU REGETSCHAP., SEBAGAI PUSAT PEMERINTAHAN ADALAH KERAJAAN ATAU NEGARA.
UNTUK
WILAYAH YANG SEKARANG BERNAMA KABUPATEN GROBOGAN, dalam menetapkan hari jadinya di dasarkan
pada terciptanya pemerintahan local KABUPATEN GROBOGAN pada masa dahulu.
Dalam sejarah jawa ,
jabatan Bupati atau Bupati prajurit ,ebutannya Adipati . tugasnya menyediakaan
prajurit dan tenaga untuk kerajaan . maka bupati ini harus bertempat tinggal di
kuthagara . di samping tugas tersebut maka dia harus pulang menyediakan
kebutuhan istana, orang aneh,kain-kain dan sebagainya . sebagai pemimpin dari
berbagai Bupati Nayaka atau wedana Bupati sepuh
( serat afdel:11-13) bupati yang ini mempunyai wilayah yang pasti dan
system pemerintahan yang tetap, missal pada jaman kerajaan kita ketahui adanya
Bupati Panekar, Bupati Numbak, Bupati anyar, Bupati Bumi Gede, Bupati Panumping
dan sbagainya.
Seelah sistim
administrasi di kembangkan menurut barat ( belanda) , padsa tahun 1840di
keluarkan serat angger-anggeran ,nagari atau serat angger Gunung, mengatur tata
tertib pemerintahaan di pedesaan. Untuk pengamanan wilayah mka di adakan pos penjagaan keamanan
sepanjang jalan lalu lintas utama antara
Surakarta – Semarang, Surakarta Yogyakarta Semarang dan nama pos
penjagaan itu adalah pos Tundan yaitu sebagai tempat penjagaan pos tersebut,
sedang di Daerah gubernemen juga mulai di tertibkan membentuk Regentschap atau
kabupaten Administratif.
Kemudian pembentukan pos
tundan itu ditingkatkan kembali dengan pembentukan Kabupaten gunung polisi
berdasarkan staatbiad 1847 no.30 dan kelengkapannya mulai statsbiad
V.ned.indie,11854 no 32 sampai disini tugas seorang Bupati masih sebagai bupati
prajurit dan kepala pengadilan Wilayah yang bertindak sebagai POLISI daerah Kemudian Pemerintah Hindia
Belanda Mengeluarkan starts blaad Van.ned indie.30 september 1918 No 14 tentang status Bupati staadblaad
kemudian diikuti keluarnya Rijksblaad Surakarta 12 Oktober 1918 No 23 dan 24
yang di syahkan pelaksanaanya oleh Pranata Patih dalem no 383 th 1918 yang
isinya pergantian nama abdi dalem patari (nabdi dalem gunung) beserta stafnya
menjadi abdi dalem Pangeran Praja supaya
sesuai dengan status Kabupaten daerah Gubernemen.
Para abdi dalem wedana
panewu mantra kang sumengko mkasebut golongan polisi , nanging kang kewajiban
nindaake babagan paprintahan ing sumengko jenenge golongan abdi dalem pangreh
projo (rijksblad surakarta 1918 n0 23, : 169-171)munggah kewajiban para panewu
panggedening distrik serat tumrap babagan polisi wae nagging iyo nanindaaken babagan pamerintahan (rijksblad surakarta 1918 n0 23, : 24-171).
Dengan ketetapan tesebut maka seluruh jawa ada sebutan Kabupaten
pangreh praja , termasuk di purwodadi perlu di ketahui bahwa struktur
Pemerintahan pangreh adalah sebagai berikut :
1. Bupati di sebut bupati pangreh
praja
2. Panewu gunung di sebut wedana
pangreh praja.
3. Panewu sekretaris di sebut wedana
kondanging bupati pangreh praja.
4. Mantra gunung disebut mantra
pangreh praja.
5. Mantra sekretaris yang di sebut
panewu kondanging wedana pangreh praja.
6. Mantra polisi disebut mantra
pangreh praja.
Disamping itu juga ditetapkan struktur birokrssi di tingkat
distri (kawedanan) dan onder distrik
(kemantren)di daerah wilayah kabupaten pangreh praja jumlah pejabat menurut stadblad
V ned indie 1924 no 18 ha 1.4u-41 rijksblad 1924 no24 hal 41-42.
·
Para pembantu sekretaris ,pembantu priyayi,termasuk
golongan pangreh praja.
·
Para carik serta mantra di kabupaten pra carik,panewon
dan keonderan distrik serta uang di perbantukan di algemene polisi.
·
Para priysyi yang memiliki diploma pangreh praja
pemerintahan jawa serta mantra polisi.
·
Para mantra sekretaris kabupaten
·
Para panewu sekretaris
·
Para panewu pembesar distrik
·
Bupati anom pangreh praja
·
Bupati pangreh praja.
Dari penjelasan di atas setelah kita mengkaji perkembangan
sejarah Grobogan yang sekarang menjadi
kabupaten Grobogan , untuk menetapkan hari jadinya dapat diajukan alternative
sebagai berikut :
Berdasarkan penjelasan
di atas maka hari jadi kabupaten
Grobogan jatuh pada hari senin ,21 Jumadilahir 1050/04 Maret 1728 denagn tanda
sengkala KHIDANING HANGGA HAMBANGUN
PRAJA yang bermula anggka tahun 1726. pada saat itu susuhunan amangkurat IV
tahun 1726 . pada saat itu susuhunan amangkurat IV mengangkat abdi yang berjasa
kepada sunan, bernama Ng wongsodipo menjadi bupati monconagari Grobogan dengan
nama RT Martopuro . dalam pengangkatan
di tetapkan pula wilayah yang menjadi wilayah kekuasaannya ialah sela , teras
karas, wirosari, santenan , grobogan dan beberapa daerah sukowati bagian utara
bengawan sala. ( babad pecina :172-174).oleh karena kota kartasura pada saat
itu sedang kacau maka RT martopuro masih tetap di kartosuro sedang
pengawasan di daerah grobogan di serahkan kepada kemenakannya yaitu rt.
Suryonagoro ( suwandi) tugsnya menciptakan struktur pemerintahan kabupaten
walaupun belum lengkap seperti adanya bupati Patih ,kaliwon,panewu,mantra, dan
seterusnya sampai jabatan bekel di desa-desa.
Pengertian mancanagari
adalah Negara taklukan raja, daerah ini bukan daerah asli penduduknya segai
daerah taklukan berkewajiban seba kepada raja setahun sekali. Yaitu pada hari
raya garbeg perlu di ketahui sejak masa kartasura sampai masa surakarta awal wilayah kerajan jawa di bagi
menjadi 3 kelompok .
Kelompok daerah yaitu :
·
Kuthonegoro yitu tempat tinggal raja keluarga raja dan pejabat
tinggi kerajaan
·
Negara Agung yaitu daerah sah kerajaan daerah ini dibagi menjadi 8
kabupaten NAYAKA (di bawah Pimpinan Bupati Prajurit) kedelapan kabupaten
tersebut adalah kabupaten BUMI, kabupaten Bumija,bumi gede kiwo,bumigede
tengen,sewu ,numpak anyar,panumping,dan panekar.
·
Monconagari, daerah ini merupakan daerah vassal yang terdiri dari
daerah monconagari kilen dan daerah monconagari wetan, serta daerah pesisir kilen
dan pesisir wetan.
Dengan demikian pengangkatan ng wongsodipo sebagai bupati grobogan
dengan gelar Mt martopuro, ,walaupun belum sempurna struktur pemerintahaannya sudah
dapat dikatakan sebagai saat lahirnya kabupaten Grobogan, sebab sudah memenui syarat
sebagai sebagai sebuah pemerintahan
kabupaten . dari penjelasan di muka , jelas bahwa pengangkatan Bupati Grobogan
atas nama Ng wongsodipo atau Rt martopuro atau Adipati puger menguasai daerah
–daerah demak ,santnan,cengkal sewu,wirosari,sela,teras karas,blora dan jipang,
serta daerah-daerah sukawati bagian utara bengawan sala. Sedang sebutan adipati merupakan sebutan bagi
seorang Bupati monconagari yang menguasai aerah-daerah yang dikuasainya, penataan administrasi wilayah sudah barang
tentu dilakukan bertahap dan baru paa masa pembentukan kabupaten pangreh praja
1847 sistem administrasi kabupaten sudah bias dikatakan mendekati sempurna,
seperti kabupaten tingkat II semarang sekarang. Disampinh itu Ng wongsodipo
atau Rt martopuro atau Adipati puger menjabat bupati grobogan sampai
meninggalya 1753 dan nantinya digantikan
oleh menantunya : RT suryonegoro dengan gelarnya RT Yudonagoro.
Dari penjelasan diatas maka tanggal 4 maret
1726 di tetapkan sebagai hari jadi kabupaten grobogan di tandai SURYA SANGKALA
HARI JADI GROBOGAN ADALAH "KRIDHANING
HANGGA HAMBANGUN PRAJA”” bernilai angka tahun 1726 mengingat sejak waktu itu
kabupaten grobogan telah ada dan memiliki perangkat yang yang di syaratkan bagi adanya sebuah
kabupaten yaitu adanya :: wilayah,rakyat dan pemerintahan walaupun belum
sempurna.
Selanjutnya
ahir uraian dari bab ini perlu disebutkan para bupati yang pernah memerintah
kabupaten grobogan . menurut data yang
ada Kabupaten grobogan dengan ibu kota
grobogan pindah ke purwodadi terjadi
pada tahun 1864 . peristiwa tersebut hanyalah merupakan peristiwa perpindahan
pusat pemerintahan kabupaten grobogan , jadi tidak terjadi perubahan status
daerah tersebut , dalam perkembangan selanjutnya kita ketahui bahwa pada tahun
1928 (staadblad, 1928 no.117) kabupaten mendapat tambahan dua distrik (
KAWEDANAN) dari kabupaten demak , yaitu :
1. kawedanan distrik
manggar dengan ibukotanya di godong.
2. kawedanan singin
kiduldengan ibukotanya gubug.
Maka sejumlah
desa di wilayah kabupaten grobogan dengan tambahan dus kawasan tersebut semula
terdiri atas 129 desa menjadi 280 desa sampai sekarang pada tanggal 1 januari
1930 (staadlad 1930 no 3) berdirilah
regent schapsraad ( dewan kabupaten) grobogan sebagai badan ekonomi di mana
regent ( bupati) sebagai ketuanya.
Pada
bulan april 1932, asistenan Karangasem , kawedanan wirosari di
hapus dan pada bulan September 1933 asistenan godoh kawedanan manggar juga di
hapus (staadblad 1932 no 16 , staadblad 1933 no 51), kemudian mendapatkan
tambahan asistenan klambu distrik undaan kudus , pada bulan maret 1942 di masa
perang dunia ke II daerah grobogan tidak luput dari pendudukan tentara jepang ,
pada waktu itu bupati grobogan R.adipati ario Soekarman masrthohadinagoro
meninggalkan kota purwodadi dan mengungsi di pesanggrahan argomulyo (milik
perhutani) tetapi tidak lama kemudian oleh jepang di serahkan kembali ke
purwodadi di tetapkan sebagai KENTYA ( BUPATI) grobogan pada tahun 1944 bupati
aryo soekarman dipindah ke semarang dan jabatannya di gantikan oleh R.soegeng
sampai tahun 1946.
Untuk jelasnya nama-nama bupati pernah
menjabat memerintah kabupaten grobogan sejak adipati martopuro tahun 1726 adalah sbagai berikut :
A. PADA WAKTU IBUKOTA KABUPATEN
MENETAP DI KOTA
GROBOGAN:
1. ADIPATI MARTOPURO ATAU ADIPATI PUGER :1726 - 17532. RT. SURYONAGORO SUWANDI ATAU RT. YUDONAGORO : 1753 - 1761
3. RT. KARTIDIREJO : 1761 - 1768 PINDAHAN DARI BUPATI SUKAWATI
4. RT. YUDONAGORO : 1768 - 1775 KEMUDIAN PINDAH KE PEKALONGAN
5. R. NG.SOROKERTI ATAU RT. ABINARONG 1 : 1775 - 1787.
6. RT. YUDOKERTI ATAU RT. ABINARONG II : 1787 - 1795.
7. RM. T SUTOYUDO : 1795 - 1801
8. RT. KARTOYUDO : 1801 - 1815
9. RT. SOSRONAGORO I : 1815 -1840
10. RT SOSRONAGORO II : 1940 - 1864
B. SETELAH IBUKOTA KABUPATEN
MENETAP DI KOTA
PURWODADI PADA TAHUN 1864 :
11. RT. ADIPATI MARTONAGORO : 1864 -187512. RM. ADIPATI ARIO YODONAGORO : 1875 - 1902
13. RM. ADIPATI ARIO HARYOKUSO : 1902 -1908
14. PANGERAN ARIO SUNARYO : 1908 - 1933 PENCIPTA TRILOGI PEDESAAN YAITU DIDESA -DESA HARUS ADA SEKOLAH DESA. BALAI DESA DAN LUMBUNG DESA
15. R ADIPATI ARIO SUKARMAN MARTOHADINEGORO : 1933 - 19944
16. R. SUGENG : 1944 - 1946
17. KASENO : 1946 -1948 BUPATI MERANGKAP KETUA KNI
18. M. PRAWOTO SUDIBYO : 1948 - 1949
19. R. SUBROTO : 1949 - 1950
20. R. SADONO : 1950 -1945 - BUPATI KEPALA DAERAH
21. H. ANDI PATOPOI : 1945 -1957 BUPATI KEPALA DAERAH
22. H. ABDUL HAMID SEBAGAI PEJABAT BUPATI DAN RUSLAN SEBAGAI KEPALA DAERAH YANG MEMERINTAH BERSAMA - SAMA
23. R. UPOYO PRAWIRO DILOGO : 1958 - 1964 BUPATI KEPALA DAERAH MERANGKAP KETUA DPRDGR. BUPATI INILAH YANG MEMPRAKARSAI PEMBANGUNAN MONUMEN OBOR GANEFO I DI MRAPEN
24. SUPANGAT : 1964 - 1967 BUPATI KEPALA DAERAH MERANGKAP KETUA DPRGR
25. R. MARJABAN : 1967 - 1970 PEJABAT BUPATI KEPALA DAERAH
26. R. UMAR KHASAN : 1970 - 1974 PEJABAT BUPATI KEPALA DAERAH
27. KOLONEL. INF. H. SOEGIRI : 11 JULI 1974 - 11 MARET 1986 BUPATI KEPALA DAERAH
28. KOLONEL H. MULYONO, US 11 MARET 1986 - 1991 DAN 11 MARET 1991-1996 BUPATI KEPALA DAERAH
29. H.TORMUDI SOEWITO : 11 MARET 1996 - 2001 BUPATI KEPALA DAERAH
30. AGUS SUPRIYANTO SE. & BAMBANG PUJIONO SH. : 12 MARET 2001 - 2006 BUPATI KEPALA DAERAH & WAKIL BUPATI KEPALA DAERAH
asal mula daerah itu disebut grobogan menurut cerita tutur
yang beredar di daerah grobogan suatu ketika, pasukan demak di bawah pimpinan sunan
ngundung & sunan kudus menyerbu ke pusat kerajaan mojopahit. Dalam
pertempuran tersebut pasukan demak memperoleh kemenangan gemilang. Runtuhlah
kerajaan mojopahit. Ketika sunan ngundung memasuki istana, dia menemukan banyak
pusaka mojopahit yang ditinggalkan. Benda - benda itu dikumpulkan dan
dimasukkan ke dalam sebuah grobog, kemudian dibawa sebagai barang
boyongan ke demak.
Di dalam perjalanan kembali ke demak grobog tersebut tertinggal di
suatu tempat karena sesuatu sebab. Tempat itu kemudian disebut grobogan. Dengan
demikian menurut cerita di atas " grobog" berarti tempat menyimpan
senjata/ barang pusaka
Peristiwa tersebut sangat mengesankan hati sunan ngundung. Sebagai
kenangan, maka tempat tersebut di beri nama grobogan, yaitu tempat grobog.
Purwodadi
sebagai kota
kabupaten grobogan mempunyai arti yaitu "purwa" berarti
"permulaan" (jawa : kawitan). "dadi" artinya
"jadi" (jawa : dumadi). Jadi "yang mula - mula jadi, purwaning
dumadi : sangkan paraning dumadi. Hal ini dikaitkan dengan cerita aji saka
dengan carakan jawa-nya yang mengandung ajaran filsafat hidup dan kehidupan
manusia "manunggaling kawula gusti", dari sejak asal mula manusia di
dunia ini
Jumlah
penduduk di kabupaten grobogan pada tahun 2001 adalah sebesar 1.324.417
jiwa, yang terdiri dari
655.376
jiwa penduduk laki - laki
669.041
jiwa penduduk perempuan
Dengan
demikian , jumlah penduduk perempuan lebih besar daripada penduduk laki - laki.
Laju
pertumbuham penduduk di kabupaten grobogan 1,3 meskipun memiliki
kecenderungan menurun, namun masih belum mencapai target laju pertumbuhan
penduduk ideal yaitu laju pertumbuhan nol ( zero population growth).
Pekerjaan
penduduk di kabupaten grobogan diperinci per kecamatan berdasarkan penduduk 10
tahun keatas, yang bekerja selama seminggu menurut lapangan pekerjaan pada
tahun 1998
Penduduk
yang bekerja pada sektor
Pertanian adalah yang terbesar mencapai 73.72 %
Pengusaha 2,20 %
Buruh industri / konstruksi 7,06%
Pedagang 5,06%
Pegawai negeri sipil / tni / polri 3,1 %
Pensiunan 0,98 %
Lainnya 7,87 %
Dari jumlah penduduk yang bekerja sebesar 722.708.
Sedangkan penduduk yang bekerja dibanding dengan jumlah penduduk usia produktif
ada 77,69%
Tingkat
pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk berumur 5 tahun keatas di
kabupaten grobogan tahun 1998 adalah :
Tidak sekolah sebanyak 89.819 orang (7,85 %)
Belum tamat sd 200.929 orang (17,57%)
Tidak tamat sd 98.761 orang (8,64 %)
Tamat sd 590.413 orang (51,63 %)
Tamat sltp 97.648 orang (8,54 %)
Tamat smu / smk 59.361 orang (5,19 %)
Tamat akademi / perguruan tinggi 6.712 orang (0,59
%)
Secara
administratif kabupaten grobogan terdiri dari
19 kecamatan
264daerah pedesaan
16 daerah perkotaan
273 desa
7 kelurahan
1409 dusun
8350 rt
1.683
rw
Dari segi
potensi pertanian, kabupaten grobogan termasuk salah satu penyangga beras
nasional dimana hal itu ditunjang dengan pengairan yang baik yaitu dari
bendungan klambu, bendungan sedadi,bendungan kedung ombo dan lain - lain.
Dari segi
industri tempat ini adalah sangat strategis ditinjau dari letaknya dimana
seperti yang telah diterangkan di letak geografi di atas yaitu berdekatan
dengan semarang, boyolali, solo, sragen, blora, pati, kudus, dan demak hal itu
sangat potensial sekali apa lagi ditunjang oleh tenaga kerja yang banyak dan
berdedikasi serta loyalitas tinggi.
Banyak
potensi kepariwisataan yang dimiliki baik wisata alam maupun seni budaya yang
bisa anda nikmati dari daerah ini, jadi langsung saja anda kunjungi maka anda
akan terkesan dengan segala hal yang ada di kabupaten grobogan ini termasuk
masakan khas purwodadi yaitu sweike dan garang asemnya serta oleh - oleh berupa
garam dari bleduk dan kecap asli purwodadi yang rasanya sangat unik dan enak
untuk dinikmati.
SEKILAS
TENTANG DESA TAMBAKSELO
PENDAHULUAN
Masyarakat
Desa terbentuk dari berbagai ikatan , ikatan yang pertama melahirkan bentuk
yang dinamakan genealogis sedangkan
yang ke dua adalah ikatan territorial,, geneologis adalah keturunan sedangkan
territorial adalah wilayah / wengkon , dan sudah pasti bahkan mesti suatu
desa memiliki unsure yaitu gotong-royong yang kuat, bahkan melebihi clien dan
patron , sebab tata kehidupan yang berjalan adalah saling bertemu, berhadapan
baik individu mauoun kelompok dimana mengenal satu sama lain seperti mengenal
dirinya sendiri.
Kata
Desa berasal dari bahasa sanksekerta , desya. Serta pengaturan desa bias di
telaah secara histories semenjak di temukannya prasasti himawalandit (+1350)
yang memuat kata swatantra yang dapat di artikan sebagai kewenangan utuk
menyeelenggarakan rumah tangganya sendiri dan prasasti kawali (+1350) yang
memuat kata Desa secara normative , desa
oertama kali di temukan oleh Mr. herman warner muntunhe pada tanggal 14 juli
1817 di pesisiran pulau jawa utara pada waktu menjadi anggota raad van indie
semasa pemerintahan lutenan gubernur general Thomas Stamford raffles, . untuk
pertama kalinya desa merupakan lembaga terendah di singgung dalam undang –
undang pertama hindia belanda, yang terkenal dengan nama REGLEMENT OP HET
BELEID DER REGERING VAN NEDERLANDS INDIE tahun
1845.
Sebagai pelaksanaan dari pasal-pasal dalam
REGLEMENT OP HET BELEID DER REGERING VAN NEDERLANDS INDIE , maka pada tahun
1906 dikeluarkan suatu ordonatie java and madura ( igo-inlandsche gemente ordonatie),
staatblad no 83 tahun 1906 yang mengatur pemerintahan desa di jawa dan madura
yang di kenal dengan nama gementee ordonantie sedangkan luar jawa di tetapkan
dengan aturan tersebdiri.
Desa-desa yang di bentuk pada saat itu lebih bersifat desa geneologis, di
mana warga desa memiliki hubungan kekeluargaan sehingga sistim nilai yang
berlaku dalam mengatur kepantingan bersama warga desa adalah adapt-istiadat
masyarakat setempat, walaupun di dalam ordonasi di atur tentang pemerintahan
Desa, dan jelas juga pada kamus bahasa Indonesia 1993-200 secara jalas mengungkapkan bahwa
desa adalah sekelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan ;kampong;
dusun ;udik;dusun.
Setelah kemerdekaan maka pengaturan
mengenai desa menjadi bagian dari kabupaten yang berpedoman pada undng-undang.
Dari urauan diatas sejarah kabupaten grobogan
yang telah mengalami pergeseran maupun perubahan tata pemerintahannya baik yang
menyangkut susunan dan wilayahnya maka di wilayah pedesaannpun mengalmi
penggabungan maupun pemecahan suatu Desa , dari wilayah desa Tambakselo
kususnya terjadi penggabungan antara wilayah Jatisemen dan kenteng gadon gading
, Jatitengah ,Ragem Jatisari ,Tambakrejo, Krajan ,Bangsri menjadi satu
kesatuan,mengingat sebelum diadakan penyatuan wilayah Desa Tambakselo Wilayah
Kecamatan wirosari(sekarang)yang dulunga adalah wilayah / statusnya adalah kawedanan dan
kecamatannaya/assitenannya berada di karangasem sesuai dengan (staadblad
1932 no 16 , staadblad 1933 no 51) maka di hapus kemudian terjadilah
penggabungan dan pemecahan Desa.
Sebelum adanya
terbit atuuran tersebut untuk jatitengh dan tumpuk, ragem,kenteng,gadon ,gading
kalau menghadiri panggilan rapat atau
perintah masih di bawah asisten wedono di karangasem .
Memang sangat
panjang sejarah suatu Desa apalagi keadaan jaman dulu sangatlah beda jauh
teruta dalam sarana transportasinya, Kembalai ke Desa Tambakselo ,kalau menilik
dari nama – nama dusun maupun nama yang lain yaitu nama makam Sentono maka bisa
di bayangkan bahwa sentono itu adalah nama yang sama dengan lokasi prasasti
majapahit , itu berarti bahwa memang sungguh panjang sejarah terbentuknya
wilayah Desa ini bisa diartikan sejak jaman majapahit kemungkinan Desa
Tambakselo sudah ada , tetapi kita hanya bisa menulis apa yang masih bisa di
dengar dan di telik walau sedikit dengan bukti fisik nya, mungkin nanti ada
bukti-bukti lagi ysng akan memperjelas keberadaan asal-usul Desa Tambakselo
Yang Sangat Kita Banggakan..
Juga dari cerita tutur orang jawa banyak
cerita yang mengiringi lahirnya desa tambakselo yaitu salah satunya adalah
Bahwa
di daerah tersebut dulunya ada tambak/bendungan
yang sangat panjang yang terdiri dari selo
/ batu bebatuan , yang dibangun jaman pemerintahan belanda, ada cerita juga dari sesepuh desa
tambakselo, bahwa batu- batu yang di gunakan atau dipakai untuk membendung
wilayah tambakselo di angkut dari batu batu besar yang di seret menggunakan
sapi maupun kerbau di ganjal dengan roda kayu untuk meluncurkan batu batu tersebut,
batu batu tersebut berasal dari timur balai desa Tambakselo sekarang, mengingat
wilayah Desa Tambakselo meupakan dataran rendah di bandingkan dengan wi layah
di sekelilingnya , dan juga sebelum ada Bendungan tirto sekarang, dulu
ceritanya akan di bangun bendungan di wilayah Jatisemen(sekarang) yang akan di gunakan belanda untuk mengairi
wilaya Tambakselo ke selatan, karma air tidak bias mengalir karma wilayah jatisemen(sekarang)
lebih rendah posisi ketinggiannya, maka bendungan tersebut tak terpakai konon
juga sebelum jadi sudah keburu keena petir, dan apabila bendungan tersebut bisa
terpakai otomatis wilayah jatisemen ke utara terjadi genangan air yang banyak.
Maka penulis menyimpulkan pada masa bendungan
jatisemen sekarang) itu sudah finis
pembangunannya wilayah jatisemen keutara di bangunlah tambak batu-batu yang
konon ceritanya berukuran yang sangat besar yang di pindahkan tidak hanya
dengan tnaga manusia tapi juga dengan tenaga hewan dengan sistem kerja jaman
belanda yang bertujuan untuk membendung air luapan maka di situlah ahirnya
batu-batu di susun di tata yang sangat
banyak jumlahnya serta besar ukuranya agar supaya pengaturan pengaiaran air
bisa sesuai rencana ,tetapi kemungkinan alam berkehendak lain karma memang di
sekeliling Desa Tambakselo dulunya adalah hutan dan perbukitan yang ahirnya
jumlah volume air yang sangat luar biasa mengakibatkan bendungan tersebut tidak
berfungsi atu tidak kuat menampung debet air yang sangat banyak volumenya .
Dengan tidak selesainya pembangunan pengairan
oleh belanda tersebut yang memang di kenal sebagai negara yang ahli dalam
pembangunan bendungan maka di cari tempat yang lebih tinggi oleh karma itu maka
pembangunan ke 2 di kerjakan di wilayah
yang sekarang di namakan dusun bangsri/yang di kenal di bayanan itulah
kira-kira.
Dan setelah Tambakselo sudah menjadi sebuah desa maka sebelah barat
adalah wonorejo dan selatan adalah Dusun Tambakrejo keselatan lagi adalah Dusun
Jatisari,bekas bendungan adalah jatisemen dan welahan,keutara adalah dusun bangsri
dusun jatitengah,dusun
tumpuk,ragem,dusun kenteng,gadon,gading,sendangwaru dan di lingkup balai Desa
adalah dusun krajan.
Banyak tokoh desa yang mengiringi
perkembangan Desa Tambakselo salah satunya adalah ulama – ulama yang menyiarkan
agama islam di wilayah Tambakselo sehingga sampai sekarang Desa Tambakselo
termasuk Desa sebagai Tempat pendidikan Agama Islam Baik MI maupun Ponpes –
ponpesnya, yang bertempat di dusun jatisari dan bangsri kususnya dan masih
banyak pula tempat –tempat pengajian di setiap Masjid yang berada di dusun –
dusun..
Serta masih ada pula bangunan – banunan
peninggalan jaman belanda yaitu berupa bendungan dan batas – batas wilayah
antara hutan dan pedesaan yang berupa tanda batas maupun yang lainnya.
Dan juga Terbentuknya suatu desa pastilah
ada sejarah yang mengiringinya yang masih menjadi ingatan di lingkungan desa
tersebut ( Desa Tambakselo) .
Wilayah desa tambakselo yang mencakup 11
kepala dusun dengan 14 nama dusun dan 11 rw 11 bpd 45 rt merupakan wilayah yang
cukup besar di bandingkan dengan desa sekitarnya
1.
ragem
2.
tumpuk
3.
jatitengah
4.
gading,gadon,kenteng.
5.
sendangwaru,
bangri.
6.
krajan
7.
wonorejo
8.
tambakejo
9.
jatisari
10.
jatisemen
11.
welahan
Masing –Nasing Dusun Mempunyai Sejarah
Tersendiri , Di Sini Kami Juga akan menceritakan para pejuangan leluhur yang
mengiringi perjalanan Desa Tambakselo yang masih teringat adalan kemenangan para tokoh maupun jawara
desa dalam memenangkan sayembara dalam penangkapan seorang bernama tirto
bulayat yaitu seorang yang mempunyai kelompok / gerombolan yang membangkang dan
memalsu uang dan sangat sakti waktu itu dan tidak ada pendekar manapun yang
bisa menumpasnya yang pada ahirnya bisa di tangkap dan diserahkan kepada
pemerintahan belanda oleh tokoh Desa Tambakselo waktu itu.
Perlu Di Ceritakan Pula Petutur Dari
Sesepuh Desa Tambakselo Bahwa Sebelum Desa Tambakselo Seperti Sekarang Ini
Dulunya Terdapat Banyak Kelurahan/Wilayah Yang Dipimpin Oleh Lurah/Bekel Dan
Ada Balai Desanya Masing – Masing Sampai Pada Ahirnya Menjadi Satu Kesatuan
Menjadi Desa Tambakselo Yang Sampai Sekarang Dinama Balai Desanya/Kantor Kepala
Desa Berada Di Dusun Krajan Dengan Lurah/Kepala Desa
- NOLOBONO (1922)…Anaknya Pardi (1927)..!930.
- PARTO REJO PARMEN .
- PARDI 1960 -1969.
- MAHFUD RIDHO 1973-1999.
- SODIKIN 1999-2006.
- SAREH JOKO PRASETYO.
Terdapat tempat tempat makam para kyai-kyai
yang setiap tahunnya selalu di adakan haul yaitu kiayi Habibah, Kiai Andurahman,Kiai Idris, Kiai/Mbh Turi, yang merupakan
penyiar islam di wilayah Desa Tambakselo.
Adanya makam-makam para kiayi tersebut maka
tidak lepas dari penyebarab islam yang di bawa pleh para wali atau keluarga
wali songo melalui jalur pantura / jalur jalan raya pos jaman belanda yaitu antara Kendal Semarang Demak
Kudus Pati Juwana Rembang
Lasem
Tuban Sidayu Gresik Surabaya Wonokromo Waru
di jalur tersebut besar keungkinan lintas asintenan karangasem kawedanan
wirosari menuju pati digunajan sebagai
jalur alternative dari rute perjalanan maka dari itu banyak persinggahan –
persinggahan (ampiran) berada di daerah
Wirosari termasuk ampiran adipati pragola di kauman wirosari .sejarah desa tambakselo
tidak lepas dari kejadian yang terjadi di kadipaten grobogan dan kesultanan
Mataram karma masih termasuk wilayah grobogan walaupun juga dapat masukan
budaya dari kesultanan Demak bintoro terlebih lagi dari perjalanan para wali
songo dalam penyebaran islam.
Prajurit
Patangpuluhan adalah prajurit yang pada masa dulu merupakan pasukan elit
Kerajaan Demak Bintoro berjumlah 40
orang. Pasukan ini dipimpin oleh seorang Manggolo Yudho yang disebut
"Lurah Tamtomo", dengan dua orang pengapit (ajudan). Terdapat pula
seorang Wiro tamtomo dan 3 Bintoro.
Keberadaan
prajurit patangpuluhan sampai saat ini masih dipertahankan sebagai bagian dari
acara Grebeg Besar yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah. dalam acara
pemberangkatan minyak jamas. yaitu mengawal minyak yang akan dikirim ke Sesepuh
Kadilangu untuk menjamas pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, berupa keris Kiyai
crubuk dan Kutang Ontokusumo.
Juga
terdapat cerita popular Sarip Tambak Oso adalah sebuah legenda populer
di Jawa
Timur yang sering dipentaskan dalam pertunjukan Ludruk, terutama di
daerah Surabaya
dan Sidoarjo.
Kisahnya tentang seorang pencuri budiman bernama Sarip yang berani menentang
pemerintahan kolonial Hindia Belanda di daerahnya.
Kisah Sarip (berdasarkan rekaman Ludruk wijaya Kusuma tahun 1970an)
Dusun
Tambak Oso dibagi menjadi 2 wilayah yang dibatasi oleh sebuah sungai, wilayah
tersebut biasa disebut Wetan kali dan Kulon Kali. Masing-masing wilayah
mempunyai Jagoan (orang yang disegani karena kesaktiannya). Wilayah Kulon kali
di kuasai oleh seorang jagoan bernama Paidi, dan Wetan kali dikuasai oleh
Sarip.
Paidi
adalah seorang pendekar yang berprofesi sebagai Kusir Dokar yang mempunyai senjata
andalan berupa Jagang yang terkenal dengan sebutan Jagang Baceman. Sarip adalah
pemuda jagoan dari desa Tambak Oso yang berhati keras, mudah marah, namun
sangat menyayangi kaum miskin, terutama kepada ibunya yang seorang janda. Di
tengah kemiskinan dan kebodohan, Sarip bertindak sebagai maling budiman yang
mencuri di rumah-rumah orang Belanda, saudagar kikir, dan para lintah darat,
untuk dibagi-bagikan kepada warga miskin.
Sarip
selalu menjadi Target Operasi Government Belanda, karena perbuatannya yang dianggap
membuat keonaran dan memprovokasi masyarakat untuk menentang kebijakan Belanda.
Suatu hari, sarip mendapati Ibunya sedang dihajar oleh Lurah Gedangan karena
ibunya tidak dapat membayar pajak tanah garapan berupa tambak. Melihat hal
tersebut Sarip marah dan langsung menghabisi nyawa Lurah Gedangan dengan
sebilah pisau dapur yang menjadi senjata andalannya.
Dilain
hari diceritakan Saropah (adik misan Sarip) hendak pulang dari Nagih pada
orang2 yang terpaut utang dengan orang tuanya, ditengah jalan bertemu dengan
Sarip dan pada saat itu Sarip bermaksud meminjam uang pada Saropah, karena
belum mendapat izin dari orang tuanya, Saropah tidak mengabulkan permintaan
Sarip. Sarip yang punya perangai kasar tidak sabar dan memaksa Saropah untuk
menyerahkan Arloji yang sedang dipakainya, dan disaat terjadi perseteruan
tersebut munculah Paidi yang hendak menjemput Saropah. Oleh Orang tua Saropah
Paidi memang telah dipercaya untuk menjaga Saropah agar aman dari ancaman
orang2 yang tidak senang. Setelah terjadi perang mulut antara Sarip dan Paidi,
terjadilah duel antara dua pendekar tersebut. Sebilah pisau dapur ternyata
tidak lebih mumpuni dibanding Jagang Baceman yang notabene lebih panjang,
akhirnya Sarip tewas dalam perkelahian tersebut dan mayatnya dibuang di sungai
Sedati.
Dibagian
hilir sungai Sedati, Ibunda Sarip "Mbok e Sarip" tengah mencuci
pakaian, entah kenapa pikirannya gundah gulana memikirkan anak keduanya itu.
Dia berhenti mencuci karena ada warna merah darah yang mengalir disungai itu,
dia berjalan mencari sumber darah tersebut, alangkah terkejutnya dia ketika
didapatinya sumber warna merah tersebut adalah mayat anaknya. Spontanitas dia
menjerit seraya berteriak " Sariiip durung wayahe Nak.....". Anehnya
Sarip bangkit dari kematiannya
dan segera berlari menemui ibunya, kemudian menanyakan kepada ibunya tentang
hal apa yang terjadi pada dirinya dan kenapa dia tidur disungai. Kemudian
ibunya bercerita, ketika Sarip masih dalam kandungan, Ayahnya bertapa di Goa
Tapa (daerah Sumber Manjing)selama beberapa waktu, dan ayahnya kembali pada
saat anak keduanya telah lahir dengan membawa sebongkah kecil tanah merah
"Lemah Abang". Selanjutnya tanah tersebut dibelah dan diberikan pada
Sarip dan Ibunya untuk dimakan. Dikatakan oleh ayah Sarip, bahwa Sarip akan
dapat bangkit dari kematian apa bila ibunya masih hidup, meskipun ia terbunuh
1000x dalam sehari.(dilanjut nanti lagi...masih panjang by: Cak Wandoyo)
Demikian
salah satu cerita yang menarik kita gunakan sebagai gambaran dari budaya
masyarakat era tujupuluhan yang tidak menutup kemungknan cerita ersebut di
ilhami dari cerita-cerita sebelumnya tetapi cerita tersebut tidak sama dengan
keadaan di mana tempat dan pelaku disebutkan apabila terdapat nama yng sama itu
hanya kebetulan.